Kitakini.news -Tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, bahkan mengeja namanya sendiri pun tak sanggup. Perempuan paruh baya bernama Aing, warga Jalan Bunga Raya III, hanya mampu menyebut namanya secara lisan. Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan satu harapan besar: agar cucunya kelak bisa mengenyam pendidikan dan keluar dari jerat kemiskinan.
Harapan itu dibawa Aing saat menghadiri kegiatan pesan Imlek 2026 yang dirangkai dengan acara tali asih dan bakti sosial yang digelar dr Sofyan Tan di pelataran Auditorium Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan Sunggal, Gang Bakul, Medan, Sabtu (7/2/2026).
Aing datang bersama cucunya, Marcela (6), yang duduk mendengarkan pesan-pesan tentang pentingnya pendidikan. Aing mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah karena kondisi ekonomi keluarga yang miskin, anak banyak, dan hidup berpindah-pindah. Kemiskinan itu, menurutnya, seakan diwariskan dari generasi ke generasi. Ayah Marcela pun telah lama meninggalkan keluarga.
Namun hari itu, secercah harapan tumbuh dari mulut sang cucu.
"Mau sekolah di sini," ucap Marcela polos sambil menunjuk SD Sultan Iskandar Muda.
Marcela menjadi salah satu anak yang disapa dan disalami langsung oleh dr Sofyan Tan. Dalam kesempatan itu, Sofyan Tan mendorong agar Marcela dan anak-anak lain kelak bisa bersekolah hingga perguruan tinggi, sebagai jalan untuk mengubah nasib keluarga agar tidak lagi terjebak dalam kemiskinan turun-temurun.
Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan, menyampaikan bahwa sebagian warga di wilayah Sunggal hidup dalam garis kemiskinan secara turun-temurun. Salah satu faktor utamanya adalah rendahnya akses dan minat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi, karena banyak anak memilih langsung bekerja demi membantu ekonomi keluarga.
"Karena itu saya bertekad membangun sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi di kawasan Sunggal, agar anak-anak dari keluarga kurang mampu punya kesempatan yang sama untuk mengubah hidupnya lewat pendidikan," ujar Sofyan Tan.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu juga menegaskan bahwa bantuan tali asih yang diberikan kepada 88 warga sekitar Sunggal menjelang Imlek bukanlah solusi untuk menghapus kemiskinan.
"Angpao dan sembako tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Ini hanya untuk berbagi kebahagiaan. Kalau ingin mengubah nasib, jalannya hanya satu, yaitu pendidikan. Sekolahkan anak dan cucu sampai perguruan tinggi, dan hentikan kebiasaan berjudi," tegasnya.
Usai pembagian tali asih, Sofyan Tan melanjutkan rangkaian bakti sosial Imlek 2026 bersama Lions Club Indonesia Distrik 307-A2 Gabungan Daerah 1C dan 1D di tiga lokasi, yakni Tandam Hulu (Deli Serdang), Sunggal, dan Titi Kuning (Medan).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Presiden Pertama Lions Club Medan Lestari CP Finche Kosmanto, Ketua Daerah 1D KD Sintia, Ketua Panitia PP Irwan Susanto, Sekretaris Panitia PP Bobby Lim, Bendahara Panitia PP Ridwan, Presiden Lions Club Medan Priority Lion Ivanna, Presiden Lions Club Medan Kasuari Lion Linda, PP Suryani, Lion Hendra, dan Lion Austin.
Dalam pesannya, Sofyan Tan menyampaikan bahwa Tahun Baru Imlek 2026 dengan Shio Kuda Api menjadi simbol semangat untuk terus bergerak maju dan bekerja keras.
"Tahun Kuda Api melambangkan keberanian, energi, dan semangat untuk berlari kencang meraih masa depan yang lebih baik," pungkasnya.(Rel)