Kitakininews.co.id - Musim panen raya padi di Sumatra Utara (Sumut) yang diperkirakan berlangsung hingga November mendatang dipastikan belum akan berdampak langsung pada penurunan harga beras di pasaran.
Kendati harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani terpantau mulai melandai, dinamika biaya produksi dan bayang-bayang ancaman iklim global membuat harga beras bertahan di level saat ini.
Ketua Tim Pemantau Harga Pasar Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan berdasarkan pemantauan lapangan, harga GKP yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp8.000 per kilogram (kg), kini turun ke kisaran Rp7.200 hingga Rp7.300 per kg.
"Kendati demikian, penurunan ini dinilai belum cukup menjadi justifikasi otomatis bagi penurunan harga beras di tingkat konsumen," ucapnya, Kamis (8/9/2026).
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat, harga rata-rata beras medium di Kota Medan saat ini masih berada di kisaran Rp15.200 hingga Rp15.750 per kg.
Sementara itu, peredaran beras premium di pasar tradisional tetap dipertahankan oleh produsen dan pedagang demi menjaga marjin di tengah kenaikan harga pokok produksi.
Pakar dan pelaku rantai pasok menilai, tren harga beras yang sulit turun dalam waktu dekat merupakan konsekuensi dari kalkulasi keekonomian yang rasional.
Di sisi lain, isu utama sektor pangan saat ini telah bergeser dari sekadar fluktuasi harga menuju upaya mitigasi pasokan jangka panjang.
Dampak anomali iklim dan ancaman gelombang El Nino yang sempat memicu gagal panen di sejumlah wilayah Indonesia menuntut adanya arah kebijakan yang lebih berorientasi pada ketahanan stok.
Meskipun wilayah Sumut dinilai relatif aman dari hantaman langsung El Nino, risiko gangguan iklim global terhadap produktivitas lahan tetap menjadi faktor krusial yang diwaspadai.
"Di tengah ancaman penurunan produktivitas lahan sawah akibat potensi kekeringan, prioritas utama saat ini bukan lagi sekadar mengharapkan harga beras turun, melainkan bagaimana pemerintah bersama pemangku kepentingan memastikan ketersediaan pasokan tetap aman untuk mengantisipasi gejolak di masa mendatang," demikian ungkap dia.
Dengan berakhirnya masa puncak produksi gabah pada bulan ini, tantangan terbesar bagi tata niaga pangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga di tingkat petani agar tetap bersemangat berproduksi, sekaligus menjamin ketersediaan beras yang terjangkau bagi masyarakat di tengah ketidakpastian iklim global.