IHSG Menguat 0.47% di Penutupan Pekan, Rupiah Melemah Tapi Emas Stabil

Siti Amelia - Kamis, 15 Januari 2026 19:10 WIB
pixabay
Ilustrasi emas batangan

Kitakini.news - Pasar saham Indonesia menutup pekan ini dengan kinerja positif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0.47% dan ditutup di level 9.075,406. Penguatan ini terjadi meski IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 9.100 sebelum berbalik arah, serta level terendah di 9.040. Kenaikan IHSG juga sejalan dengan penguatan mayoritas bursa saham di Asia pada perdagangan hari ini.

Emiten-emiten besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PTRO) menjadi kontributor utama penguatan indeks. Saham-saham perbankan ini menjadi motor penggerak utama, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam waktu dekat.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah di level Rp16.880 per USD. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang sempit antara Rp16.855 hingga Rp16.885 per USD, hampir stagnan seiring stabilitas dolar AS di pasar keuangan Asia. Kondisi ekonomi Iran yang memburuk secara psikologis mempengaruhi pelaku pasar, meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan mata uang di kawasan Asia.

Di sisi lain, harga emas dunia sempat melemah di bawah level US$4.600 per ons troy, namun pulih kembali di sesi sore dan diperdagangkan di kisaran US$4.619 per ons troy. Harga emas domestik tetap stabil di sekitar Rp2,5 juta per gram, dengan ekspektasi bertahan di level US$4.600 hingga keputusan suku bunga acuan Federal Reserve AS dalam waktu dekat, serta dipengaruhi oleh dinamika politik global.

Menurut Analis Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, penguatan IHSG mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik. "Kenaikan saham perbankan menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar, yang bisa mendorong likuiditas dan investasi," ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Ia juga menambahkan bahwa pelemahan rupiah perlu diwaspadai, terutama dengan risiko geopolitik seperti di Iran, yang bisa memicu volatilitas mata uang regional. "Untuk emas, stabilitasnya menjadikannya pilihan aman bagi investor yang mencari lindung nilai di tengah ketidakpastian global," pungkas Benjamin.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Bisnis

Perang AS-Iran Memanas, IHSG Anjlok ke Level 6.031 dan Rupiah Terdampak di Rp17.895 per Dolar AS

Bisnis

Panen Raya di Sumut Belum Mampu Turunkan Harga Beras

Bisnis

313 WBP Berisiko Tinggi dari 5 Kanwil Dipindahkan ke Nusa Kambangan

Bisnis

Pura-pura Membeli, Komplotan Emak-emak Beraksi di Toko Emas Batubara Terekam Cctv

Bisnis

Rico Waas Suntik Semangat Atlet Medan, KONI Bidik 148 Emas di Porprovsu 2026

Bisnis

Sofyan Tan Ungkap Filosofi Kepemimpinan dari Barongsai: Sehati, Kompak dan Peka terhadap Sesama