Hilirisasi Industri, Langkah Besar Indonesia Kurangi Ketergantungan Impor, Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja

Siti Amelia - Senin, 09 Februari 2026 09:50 WIB
dokumentasi inalum
Ilustrasi
Kitakini.news - Memperkuat ekonomi nasional, BPI Danantara Indonesia (Danantara Indonesia) meresmikan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi se-Indonesia. Dengan total investasi mencapai US$7 miliar, proyek ini bukan sekadar pembangunan pabrik, melainkan fondasi untuk mengubah Indonesia menjadi negara yang lebih mandiri dan berdaya saing global.

Fokusnya? Mengolah bahan mentah dalam negeri agar tidak lagi bergantung pada impor, sambil menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Proyek ini melibatkan sektor energi, pangan, mineral, dan logam, dengan target menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung. Ini adalah bagian dari agenda transformasi ekonomi yang didorong Presiden RI, di mana hilirisasi diharapkan mengurangi ketergantungan impor secara bertahap dan meningkatkan nilai tambah industri domestik.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menekankan bahwa proyek ini akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Ini bukan hanya soal pabrik, tapi tentang bagaimana kita bisa mengubah bahan mentah seperti bauksit menjadi produk bernilai tinggi, seperti aluminium, yang bisa digunakan untuk industri dalam negeri. Dengan begitu, kita hemat devisa dan ciptakan pekerjaan bagi ribuan orang," kata Rosan dalam acara peresmian.

Salah satu proyek unggulan adalah fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikelola oleh MIND ID bersama anggotanya, INALUM dan ANTAM. Fasilitas ini mencakup smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 ton per tahun dan refinery alumina fase II dengan kapasitas 1 juta ton per tahun. Proyek ini bisa meningkatkan nilai tambah bahan mentah hingga 70 kali lipat – dari bauksit mentah yang harganya sekitar US$40 per ton, menjadi alumina sekitar US$400 per ton, dan aluminium hingga US$2.800–3.000 per ton.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menjelaskan manfaatnya secara sederhana: "Bayangkan, kita tidak perlu lagi beli aluminium dari luar negeri. Dengan produksi dalam negeri, cadangan devisa kita bisa naik drastis, dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Industri manufaktur juga dapat pasokan bahan baku yang stabil, tanpa khawatir harga naik karena fluktuasi global."

Acara peresmian dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat, anggota DPR RI Komisi XII, Bupati Kabupaten Mempawah, Raja Mempawah XIV, Dewan Adat Dayak, serta jajaran direksi MIND ID, ANTAM, Bukit Asam, INALUM, dan PT Borneo Alumina Indonesia. Ini menunjukkan kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis untuk mewujudkan visi Indonesia yang lebih kuat.

Dengan proyek ini, Indonesia tidak hanya mengurangi impor, tapi juga membangun fondasi untuk ekonomi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Danantara Indonesia berkomitmen untuk merealisasikan proyek-proyek ini tepat waktu, memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan negara.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Bisnis

INALUM Buka Magang 2026 untuk Mahasiswa: Cek Syarat, Cara Daftar, dan Jadwalnya!

Bisnis

Ekonomi Masyarakat Nias Utara Terdongkrak dari Rumput Laut, Wagubsu Dorong Hilirisasi

Bisnis

INALUM Cetak Kinerja Tertinggi Sepanjang Sejarah, Produksi dan Penjualan Pecahkan Rekor

Bisnis

INALUM Groundbreaking Fasilitas Bauksit-Alumina-Aluminium

Bisnis

SMI Bacakan 11 Catatan Kritis untuk Indonesia, Menuju 2026 dengan Harapan Baru

Bisnis

Inalum Genjot Produksi Green Aluminium dengan Teknologi Mutakhir Tiongkok