Perang Iran-AS Lambungkan Harga Minyak Dunia, Pengendalian Inflasi Bakal Lebih Sulit

Siti Amelia - Senin, 02 Maret 2026 14:35 WIB
pixabay
Ilustrasi

Kitakini.news - Operasi militer Amerika Serikat ke wilayah Iran telah berhasil melambungkan harga minyak mentah dunia ke level USD 78 per barel. Kondisi ini pun bertepatan dengan rilis data inflasi nasional oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan laju tekanan inflasi sebesar 0,68% secara bulananan, Senin (2/3/2026).

Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa saat ini pengendalian inflasi akan dihantui oleh tekanan eksternal. Kenaikan harga minyak mentah disebutnya bakal mengancam kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tanah air.

"Harga BBM non-subsidi pada dasarnya akan menyesuaikan perubahan harga minyak mentah dunia. Namun dampak dari perang antara Iran dan AS tidak hanya berhenti pada masalah harga BBM semata," tutur Gunawan Benjamin, Senin (2/3/2026).

Dia menjelaskan, konflik tersebut berpeluang memicu gangguan rantai pasok untuk komoditas lainnya. Pengalaman dari perang antara Rusia dengan Ukraina beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata, di mana sempat terjadi kenaikan tajam untuk komoditas pangan seperti gandum dan biji kedelai.

Berdasarkan pemantauan melalui tradingeconomics.com, harga kedelai saat ini naik menjadi USD 11,55 per bushel, menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Sementara gandum menjadi USD 5,8 per bushel atau tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

"Kenaikan kedua komoditas ini berpeluang memicu kenaikan harga kacang kedelai serta gandum di tanah air," jelas Gunawan Benjamin.

Kedua komoditas tersebut menjadi bahan baku kebutuhan pangan dalam negeri, mulai dari pakan ternak hingga produk olahan seperti tempe, tahu, dan roti. Gunawan Benjamin menambahkan, perang di Timur Tengah memiliki komplikasi yang rumit bagi pengendalian inflasi ke depan.

"Akan ada shock (kejutan) pada sejumlah kebutuhan pangan utama dunia dalam jangka pendek," katanya.

Dengan demikian, pasar saat ini menunggu bagaimana durasi dan eskalasi perang ini menentukan titik keseimbangan baru bagi harga kebutuhan hidup masyarakat. Komplikasi masalah tidak hanya terletak pada harga komoditas yang melambat akibat perang, melainkan komoditas tertentu seperti minyak dunia memiliki efek multiplier besar terhadap pembentukan harga BBM di tanah air.

"Mitigasi kebijakan ke depan adalah bagaimana meminimalisir dampak dari kenaikan harga komoditas dari luar agar tidak memicu kenaikan harga kebutuhan hidup di tanah air," papar Gunawan Benjamin.

Menurut Gunawan Benjamin, kunci keberhasilan terletak pada kebijakan fiskal dan moneter. Dari sisi fiskal, perlu diatur ulang agar lebih tahan banting menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia. Sementara dari sisi moneter, diperlukan upaya agar mata uang Rupiah dapat dikendalikan lebih stabil.

"Kombinasi dari keduanya mutlak dibutuhkan, karena perang pada akhirnya akan tetap memicu inflasi. Namun upaya untuk menekan inflasi seminimal mungkin dibutuhkan di saat-saat genting seperti ini," tutup Gunawan Benjamin.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Bisnis

AS-Iran Saring Serang Lagi, Selat Hormuz Ditutup dan Pengaruhi Harga Minyak Dunia

Bisnis

‎Saksi Ungkap Dugaan Aliran Rp600 Juta ke Moettaqin Hasrimi di Sidang Korupsi Smartboard Tebingtinggi

Bisnis

Kontroversi FIFA Tak Selamatkan Amerika di Piala Dunia, Perempat Final Tanpa Tuan Rumah

Bisnis

Amerika Serikat vs Belgia, Duel Panas Berebut Tiket Perempat Final

Bisnis

Polisi Gerebek Hotel di Medan, Ratusan Pod Vape Berisi Narkotika Asal Malaysia Disembunyikan di Dalam Banta

Bisnis

Bosnia Gagal Manfaatkan Keunggulan Pemain, Amerika Serikat Melaju ke 16 Besar