Kitakini.news - Sektor keuangan di Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan tren pertumbuhan yang menggembirakan hingga awal 2026. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, menyampaikan bahwa berbagai indikator kinerja lembaga jasa keuangan (LJK) mencatat peningkatan signifikan. Meski ada penurunan sementara di segmen asuransi akibat bencana alam.
Di sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun, total investasi dana pensiun di Sumatera Utara per Januari 2026 mencapai Rp1,31 triliun, naik 7,95 persen dibandingkan Januari tahun sebelumnya. Namun, kinerja asuransi umum per Februari 2026 mengalami penurunan dengan total premi Rp197 miliar (turun 50,38 persen year-on-year/yoy), sementara total klaim naik 5,10 persen menjadi Rp162 miliar.
Pada asuransi jiwa, premi turun 21,87 persen menjadi Rp1,19 triliun, dengan klaim menurun 2,37 persen menjadi Rp1,03 triliun. "Penurunan di asuransi umum dipengaruhi peningkatan klaim akibat bencana pada November 2025," tuturnya, Selasa (14/2/2026).
Pasar modal Sumatera Utara juga kinclong. Jumlah investor Single Investor Identification (SID) per Februari 2026 mencapai 1.036.492 SID, naik 64,25 persen yoy. Rinciannya: SID saham 428.397 (naik 38,50 persen), SID SBN 72.148 (naik 16,60 persen), dan SID reksa dana 982.011 (naik 65,71 persen).
Transaksi saham pun ramai, penjualan Rp11,92 triliun (naik 135,51 persen) dan pembelian Rp12,2 triliun (naik 103,95 persen). Aktivitas securities crowdfunding (SCF) libatkan 5 penerbit, 3.667 pemodal, dan dana Rp8,74 miliar. Saat ini, ada 11 emiten asal Sumatera Utara.
Di inovasi teknologi sektor keuangan (ITSK), per Maret 2026 terdaftar 25 penyelenggara, termasuk 8 pemeringkat kredit alternatif dan 17 agregasi jasa keuangan. Mereka jalin 1.313 kemitraan dengan LJK, mendorong layanan keuangan digital.
Secara nasional, perdagangan aset kripto terus tumbuh signifikan. OJK juga kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Fintech Startup Accelerator untuk perkuat startup fintech berbasis regulasi.