Menyemai Limbah Kelapa Sawit Jadi Energi

Siti Amelia - Jumat, 07 Agustus 2026 18:56 WIB
amelia
Karyawan Pabrik Kelapa Sawit Gunung Melayu 1 (PGS) PT Saudara Sejati Luhur saat memantau pengolahan minyak CPKO. CPKO merupakan salah satu produk hasil dari kelapa sawit yang kerap digunakan sebagai bahan dasar kosmetik.

Kitakininews.co.id -Pabrik Kelapa Sawit Gunung Melayu 1 (PGS) PT Saudara Sejati Luhur, membuktikan limbahbukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari transformasi bernilai.Melalui teknologi pengolahan biogas yang diterapkan sejak 2015, pabrik dibawah benderaAsian Agri ini, berhasil mengubah cairan sisa pengolahan buah sawit menjadi sumber dayalistrik. Sebuah terobosan yang menjawab tantangan lingkungan sekaligus efisiensi bisnis.

"Mungkin bagi sebagian pabrik, limbah pabrik hanyalah beban yang harus dikelola. Tapi bagikami, ini adalah potensi besar yang selama ini belum tergali optimal," kata ImmanuelPanjaitan, Mill Manager PGS, media visit, beberapa waktu lalu.

Immanuel menjelaskan bahwa langkah ini merupakan perwujudan nyata prinsip ekonomisirkular yang dianut Asian Agri. "Proses biogas dari limbah cair sawit atau yang kita sebutPOME adalah solusi waste to energy. Kami mengubah sesuatu yang awalnya berpotensimenjadi pencemar menjadi sumber energi terbarukan yang sangat menguntungkanoperasional pabrik," paparnya pria murah senyum ini.

Dia pun menjelaskan perjalanan limbah menjadi energi. Dimulai dari penampungan cairanhasil pengolahan buah Sawit. Yang mana setiap bulan, rata-rata lebih dari 5.000 meter kubiklimbah cair diproses melalui sistem ini.

Sebagai gambaran konkret, pada Januari lalu terdapat 6.417 m³ POME yang diolah danmenghasilkan 259.474 Nm³ biogas. Tingkat efisiensi konversi yang dicapai mencapai 40,44persen, angka yang menunjukkan bahwa teknologi yang diterapkan benar-benar optimal.

Proses inti berlangsung di dalam Digester Tank berkapasitas 6.000 m³. Di tank raksasa inilahlimbah difermentasi oleh bakteri secara anaerob atau tanpa oksigen, pada suhu terkontrol50-55 derajat Celsius. Di tahap ini, limbah diuraikan secara biologis dan menghasilkan gasmetana yang nilai energinya tinggi.

Proses fermentasi didukung oleh unit AnMBR Tank yang memiliki 1.600 membran khusus. Fungsinya mempertahankan populasi bakteri agar produksi gas tetap stabil dan optimal. "Kualitas gas yang dihasilkan sangat kami jaga. Melalui unit pemurnian BioScrubber, kadar gas beracun hidrogen sulfida kami turunkan dari di atas 3.000 ppm menjadi di bawah 200 ppm. Ini agar aman bagi mesin dan lingkungan sekitar," jelas Immanuel.

Setelah dikeringkan di suhu 13 derajat Celsius, gas tersebut siap dibakar untuk menghasilkan listrik. Mesin pembangkit tipe GE Jenbacher berkapasitas 1.200 kW mampu menghasilkan rata-rata lebih dari 380.000 kWh setiap bulannya. "Listrik yang dihasilkan, kemudian menyuplai seluruh kebutuhan energi fasilitas pabrik," ungkap dia.

Immanuel bilang, keberhasilan sistem biogas ini bukan hanya sekadar angka produksi. Lebih dari itu, dampaknya jauh lebih luas dan terasa nyata. "Ada tiga manfaat besar yang kami rasakan. Pertama, pengurangan jejak karbon secara signifikan di pabrik. Metana yang seharusnya terlepas ke udara sebagai gas rumah kaca, kini kami tangkap dan manfaatkan menjadi energi bersih," katanya.

Benefit kedua jelas terasa pada aspek finansial. "Kami bisa lebih menghemat biaya operasional, tidak perlu membeli energi dari luar karena kebutuhan listrik pabrik sudah tercukupi dari biogas ini. Ini menekan biaya operasional secara signifikan," tuturnya.

Yang ketiga, langkah ini menjadi bukti nyata kepatuhan perusahaan terhadap standar keberlanjutan internasional, sebuah nilai plus yang tak bisa dinilai dengan uang semata. Pencapaian tersebut kini terkonfirmasi melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang dimiliki perusahaan. Sertifikat ini menegaskan bahwa pengelolaan limbah dan produksi energi di PGS memenuhi standar tertinggi dalam aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

"Teknologi biogas ini adalah jawaban atas tantangan industri sawit. Kami ingin membuktikan bahwa industri kelapa sawit bisa berjalan beriringan dengan kelestarian alam," tutup Immanuel dengan yakin.

Pabrik Gunung Melayu I yang telah beroperasi sejak 1987 dan kini memiliki kapasitas olah 60 ton per jam ini telah menjadi role model pabrik sawit modern. Yakni efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi. Tak hanya mengolah limbah cair, kernel kelapa sawit diolah menjadi CPKO sebagai bahan dasar kosmetik; termasuk mengolah kelapa sawit menjadi pakan ternak. Sehingga tidak ada lagi limbah dari kepala sawit.

Seorang pekerja Pabrik Kepala Sawit Gunung Melayu 1 (PGS) saat memandu Jurnalis untuk melihat Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di dalam pabrik. PLTBg berkapasitas 1200 kWh ini ditopang oleh dua digester tank berkapasitas 6.000 m3. (foto : amelia)

Pemberdayaan Nyata ke Masyarakat

Head of Corporate Communication Asian Agri, Prama Yudha Amdan menambahkan, penerapan prinsip sawit berkelanjutan menjadi kunci agar industri ini dapat terus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, negara, lingkungan, pelanggan, serta perusahaan sendiri.

"Dalam konteks ini, Philosophy 5C, yakni Good for Community, Good for Country, Good for Climate, Good for Customer, dan Good for Company, bukanlah sekadar lips service. Ini adalah kerangka kerja yang diwujudkan melalui pemberdayaan nyata di lapangan," tuturnya.

Dia menjelaskan di wilayah Sumatera Utara dan Riau, PT Asian Agri melalui program CSR menjalankan filosofi tersebut dengan pendekatan konkret: memberdayakan masyarakat sekitar plantations mengelola limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satu jalannya adalah melalui pelatihan budidaya Maggot (Black Soldier Fly) dan Azolla, dua organisme yang mampu mengubah limbah organik menjadi pangan bernilai tinggi, sekaligus mengurangi dampak negatif dari peternakan tradisional.

"Dulu saya awalnya menolak. Kok saya yang harus mengikuti pelatihan? Saya kan sibuk. Bertani, berdagang, juga jadi pengerajin kayu. Tapi Pak Kades memohon, 'Kamu yang bisa menjalankan ini. Kalau bukan kamu, siapa lagi?' akhirnya saya berangkat juga," kenang Suwito, salah satu warga kebanggaan Desa Perkebunan Tanah Datar, Kabupaten Batu Bara, yang kini menjadi pembudidayawan Maggot dan Azolla sukses.

Inilah awal mula perjalanan transformasi seorang entrepreneur mikro di desa terpencil. Berbeda dengan stereotype pembudidayawan modern yang sejak awal sudah bergerak di bidangnya, pria yang akrab disapa Pak Wito ini pun memulai semuanya dari nol, tanpa pengalaman di bidang peternakan, tanpa modal besar, bahkan dengan keraguan apakah dirinya mampu berhasil.

"Dari pelatihan di Riau selama sehari itu, saya dapat ilmu dasar. Termasuk tentang Azolla, tanaman air yang kandungan proteinnya 20-25%. Waktu itu saya bawa pulang 120 biji Azolla dalam botol Aqua kecil, kemudian budidayakan di kolam sederhana. Dalam waktu seminggu, sudah penuh kolam. Sekarang, masyarakat sini sudah mulai membudidayakan, terutama para peternak entok, ayam, dan kambing," ceritanya.

Keberhasilan Pak Wito tidak berhenti di Azolla saja. Dari pelatihan tersebut, ia memberanikan diri mengembangkan budidaya Maggot, larva Black Soldier Fly yang kandungan proteinnya mencapai 30-35%. Jauh lebih tinggi dari pelet komersial yang kandungan proteinnya hanya 20-25%.

"Dulu saya pernah usaha peternakan ayam jumbo, tapi gagal. Ongkos pakan mahal, biaya operasional tinggi, akhirnya tidak untung. Sekarang berbeda. Dengan Maggot dan Azolla, saya tidak beli pelet lagi. Penghematan hampir 100%," akunya.

Terkait keberhasilan Pak Wito, Prama Yudha Amdan mengungkapkan dalam membantu pemberdayaan masyarakat, Asia Agri tidak hanya memberikan pelatihan, termasuk menyediakan bibit awal, dan memfasilitasi akses pasar. "Ini bagian dari komitmen kami terhadap Philosophy 5C. Community yang kuat berarti lingkungan yang sehat, itu juga Good for Climate," papar Yudha.

Pendekatan perusahaan kali ini berbeda dari bantuan sosial konvensional. Asian Agri menggabungkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pelestarian lingkungan dalam satu paket program yang saling menguatkan. "Pertama, setelah pelatihan, kami berikan support bibit Maggot. Kedua, kami fasilitasi kemitraan dengan masyarakat yang membutuhkan input budi daya. Ketiga, kami bantu akses pasar untuk produk yang dihasilkan," jelasnya.

Dukungan ini bukan sekadar pemberian modal mikro, melainkan transfer pengetahuan yang berkelanjutan. "Masyarakat tidak hanya menerima ikan, melainkan diajarkan cara memancing. Atau dalam konteks ini, cara membudidayakan Maggot dan Azolla secara mandiri," beber dia.

Perubahan yang dibawa program ini cukup signifikan di tingkat desa. Masyarakat yang dulunya kesulitan mencari pakan ternak karena harga yang mahal, kini bisa memproduksi pakan sendiri dengan biaya minimal. "Dulu, kalau mau beternak entok 150 ekor, ongkos pakannya besar. Sekarang, dengan Maggot dan Azolla, saya hemat hampir seluruh biaya pakan. Bahkan, Maggot yang saya hasilkan mulai diambil orang dari luar desa. Ada yang pesan untuk kebutuhan peternakan mereka," kata Pak Wito.

Yang lebih menarik, proses budidaya Maggot ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang sempurna. Limbah organik rumah tangga menjadi bahan baku Maggot, kemudian kotoran Maggot yang kaya unsur hara diubah menjadi pupuk organik untuk tanaman. Tidak ada yang terbuang, semua bernilai. "Dulu kami membuang limbah dapur ke got. Sekarang semua berguna. Bahkan kotoran maggot saya kasih ke tanaman cabe, hasilnya luar biasa," terang seorang warga desa lainnya yang dihubungi terpisah.

Program pemberdayaan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, dibalik kesederhanaan itu tersimpan data yang menarik. Hanya bermodal awal mulai dari 10 gram telur Maggot, Pak Wito kini berhasil membudidaya. Panen pertama dapat dilakukan dalam 25-55 hari, tergantung tujuan penggunaan.

Dari 10 gram telur, bisa dihasilkan 8-10 kg Maggot dengan harga jual sekitar Rp 9.000 per kg. Harga ini lebih murah dari pelet komersial yang Rp 10.000 per kg. Apalagi kandungan proteinnya lebih tinggi dari pelet. Maggot 30-35%, dan Azolla 20-25%. Sehingga dampak penghematan biaya pakan hingga 100%.

Suwito saat memperlihatkan kolam ikan yang ada di belakang rumahnya, beberapa waktu lalu. Yang ada di kolam ini, diberi makan maggot, pakan yang diproduksinya sendiri, alami dan lebih tinggi protein. Ilmu membuat pakan ini didapatkan Suwito saat mengikuti pelatihan yang diinisiasi Asian Agri, Mei 2023 lalu. (foto : Amelia)

Kata Aparatur Pemerintah

"Kami sangat berterima kasih kepada Asian Agri. Dulu masyarakat kami sulit, sekarang ada jalan keluar. Kedepannya, kami rencanakan pengembangan budidaya Maggot skala desa, mungkin melalui dana desa, mungkin melalui proposta kerja sama lain," kata Kepala Desa Perkebunan Tanah Datar, Kabupaten Batu Bara, Jarkaseh.

Dukungan dari pemimpin lokal tidak hanya bersifat moril. Rencana pengembangan skala desa menunjukkan bahwa program ini sudah menjadi motor penggerak ekonomi tingkat akar rumput. "Warga melihat peluang nyata, dan pemerintah desa siap memfasilitasi," ucap dia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumut, Heri Wahyudi Marpaung juga memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah positif yang diambil industri kelapa sawit dalam mendukung program pemerintah menuju energi hijau. "Kita patut memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang sudah mulai mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan seperti biogas ini. Ini adalah langkah konkret yang mendukung target pemerintah dalam transisi energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca," ungkapnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Heri menjelaskan bahwa pemerintah provinsi Sumatera Utara sangat mendukung upaya-upaya industri dalam mengurangi dampak lingkungan. Program-program seperti pengolahan limbah menjadi energi ini sejatinya menjadi role model bagi industri lain yang masih dalam tahap transisi hijau. "Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh kolaborasi aktif dari sektor swasta. Ketika industri seperti Asian Agri sudah membuktikan bahwa limbah bisa menjadi energi, ini bukan hanya kebaikan bagi perusahaan, tapi juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitar."

Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara, lanjut Heri, akan terus mendorong industri-industri di daerah ini untuk mengikuti jejak serupa. Tidak hanya dari aspek regulasi, tetapi juga berupa kemudahan-kemudahan dalam perizinan dan insentif bagi perusahaan yang benar-benar komitmen terhadap keberlanjutan.

"Bagi kami, Green Energy bukan lagi pilihan tapi kebutuhan. Siapa pun yang berkontribusi dalam program ini, akan kami dukung penuh. Ini tentang masa depan Sumatera Utara yang lebih hijau dan berkelanjutan," tandasnya.

(Nominator Lomba Tulis Asian Agri)

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Bisnis

Forum Penyelamat USU Desak KPK Usut Dugaan Penyimpangan Aset dan Kasus Rektor

Bisnis

Asian Agri Perkenalkan Topaz, Bibit Unggul Kelapa Sawit yang Tahan Ganoderma

Bisnis

Budidaya Maggot, Intan Raih Prestasi di Pemuda Pelopor Tingkat Nasional