Kitakininews.co.id - Berdiri di atas tanah yang sempat tertutup endapan lumpur pekat setinggi 70 centimeter akibat banjir bandang November 2025 lalu, Kelompok Tani Melon Mutiara di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Karang Baru, kini bisa tersenyum lega.
Kerja keras dan inovasi pertanian yang mereka terapkan berhasil membuahkan hasil. Produksi buah Melon Golden Alisha diperkirakan melonjak pesat hingga mencapai 2,5 sampai 3 ton pada musim panen kali ini.
Capaian ini menjadi tonggak penting kebangkitan ekonomi warga setempat, mengingat banjir besar setinggi lima meter tersebut sempat memusnahkan seluruh media tanam, modal, hingga peralatan pertanian warga.
"Jujur saja, kalau secara mandiri kami mustahil bisa bangkit kembali. Semua yang kami miliki saat itu hancur. Modal habis dan peralatan pertanian rusak total," ujar Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara.
Kebangkitan kelompok tani ini tak lepas dari penerapan teknologi budidaya yang efisien. Di atas lahan seluas tiga rante (sekitar 1.200 meter persegi), para petani membudidayakan melon golden memanfaatkan sistem polybag ukuran 50x60 centimeter dengan pengaturan jarak tanam yang optimal.
Menariknya, teknik pengelolaan media tanam polybag yang dikembangkan mampu bertahan hingga 22 kali masa tanam. Dengan modal awal media tanam sebesar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang ini menekan biaya media tanam menjadi hanya sekitar Rp400 hingga Rp500 per siklus budidaya.
"Tahun lalu kami hanya mampu memanen 1,8 ton. Tahun ini, berkat pembelajaran teknologi pertanian yang terus kami perbaiki, target produksi naik menjadi 2,5 hingga 3 ton. Kami sangat terbuka bagi masyarakat yang ingin datang dan belajar budidaya melon di sini," tambahnya.
Proses pemulihan yang cepat ini terwujud berkat kolaborasi lintas sektor melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) dari Pertamina EP (PEP) Rantau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1.
Pendampingan difokuskan pada pengolahan kembali media tanam yang rusak, penyediaan bibit unggul Golden Alisha, hingga pemenuhan sarana dan prasarana pendukung.
Selain menggelar wisata petik melon di Kebun Tanjung Seumantoh, dalam kesempatan yang sama juga dilakukan re-opening Kafe Inklusi di Karang Baru sebagai wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal lainnya.
Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menegaskan bahwa tanggap bencana tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat saja, melainkan harus dilanjutkan dengan pendampingan jangka panjang berbasis pemetaan potensi (social & potential mapping).
"Bantuan pascabanjir menjadi langkah awal, tetapi yang paling utama adalah mendorong warga agar terus tumbuh dan mandiri secara berkelanjutan. Program PPM ini dibangun bersama masyarakat, bukan semata-mata oleh Pertamina sendiri," tegas Tomi.
Melalui pola pendampingan yang dirancang berlangsung selama tiga hingga lima tahun, kelompok mitra binaan diharapkan memiliki fondasi ekonomi dan sosial yang kokoh sehingga mampu mengelola usaha secara mandiri di masa depan.