Kitakininews.co.id - Pasar keuangan domestik dibuka melemah pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sama-sama bergerak di zona merah akibat tekanan sentimen global serta meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Ekonom asal Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis ekonomi global dan ketegangan politik antar-negara maju.
"Awal pekan ini pelaku pasar tengah dihantui oleh memburuknya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang menghadirkan Iran, China, dan Rusia berpotensi melahirkan kebijakan baru untuk menandingi tekanan Amerika Serikat (AS)," ujar Gunawan, Senin (31/8/2026).
Ketegangan tersebut meningkat setelah China secara terbuka menentang sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS atas kerja sama ekonominya dengan Iran. Memanasnya hubungan kedua pihak kembali memicu kecemasan pasar terhadap prospek ekonomi global ke depan.
Dari Asia, rilis data Manufacturing PMI China bulan Agustus mencatatkan perbaikan ke level 49,8 dari posisi bulan sebelumnya sebesar 49,0. Meski membaik, angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur China masih berada di zona kontraksi (di bawah level 50).
Kondisi manufaktur yang belum sepenuhnya pulih ini memicu pelemahan pada mayoritas bursa saham Asia. IHSG pun ikut terseret arus pelemahan global dan dibuka turun ke level 6.511 pada sesi pagi.
Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah ditransaksikan melemah ke kisaran Rp17.750 per dolar AS. Menurut Gunawan, pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah perkasanya indeks dolar AS (USD Index) yang naik ke level 99,6.
Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,7%, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir pekan lalu, sehingga makin menarik modal keluar dari pasar negara berkembang.
Dampak eskalasi politik global ini juga terasa langsung pada pasar komoditas minyak mentah dan emas. Harga minyak mentah dunia melambung hingga menyentuh US$90 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Dan lonjakan harga minyak mentah mendesak harga emas bergerak ke kisaran US$4.423 per ons troy (atau sekitar Rp2,53 juta per gram).
"Para pelaku pasar diproyeksikan masih akan bersikap hati-hati atau wait and see, mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan ekonomi global dalam beberapa hari ke depan," tandasnya.