IHSG Bertahan Menguat di Tengah Gejolak Minyak Dunia dan Koreksi Rupiah

Siti Amelia - Senin, 31 Agustus 2026 17:29 WIB
Pixabay
ilustrasi

Kitakininews.co.id -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi perdagangan dengan penguatan tipis, meskipun bayang-bayang ketegangan geopolitik Timur Tengah dan termasuk harga minyak mentah sukses menekan nilai tukar Rupiah.

Analisis Mengutip Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, Senin (31/8/2026), IHSG ditutup menguat 0,11% pada level 6.525,478. "Sesi perdagangan pertama memang menjadi fase terberat bagi kinerja IHSG. Namun, indeks terus mencoba melawan tekanan hingga mampu menguat tipis di sesi penutupan," ujar Gunawan.

Sepanjang hari, IHSG bergerak pada rentang 6.476 hingga 6.528. Penguatan ini tidak lepas dari kontribusi positif sejumlah emiten utama, antara lain BBRI, BBNI, BUMI, ADRO, hingga ENRG.

Nasib berbeda dialami pasar uang. Nilai tukar Rupiah ditutup di level Rp17.710 per Dolar AS. Gunawan mencatat, meski Indeks Dolar AS (USD Index) dan imbal hasil US Treasury relatif stabil, pergerakan Rupiah terkurung dalam rentang sempit Rp17.710 hingga Rp17.750 akibat hantaman sentimen negatif global.

Faktor utama yang menekan mata uang Garuda adalah menggerakkan harga minyak mentah dunia. Minyak acuan jenis Brent pada sore ini telah menembus kisaran USD 91 per barel. Pelaku pasar merespons cepat kabar terbaru dari Timur Tengah mengenai eskalasi serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

"Dinamika politik yang tidak menuntu ini memberikan gambaran buruk terhadap ekspektasi laju inflasi ke depan," tegas Gunawan.

Tekanan pada sektor harga energi semakin memburuk, yang berpotensi memutarbalikkan arah kebijakan bank sentral kembali ke fase pengetatan. Spekulasi kenaikan suku bunga acuan kembali menyebutkan, terlebih potensi konfrontasi di Timur Tengah kini berisiko menyeret negara-negara mitra dagang Iran, seperti China dan Rusia.

Di tengah situasi ini, harga emas dunia justru gagal bersinar terang. Emas masih tertahan di kisaran USD 4.441 per ons troy atau sekitar Rp2,54 juta per gram. Menurut Gunawan, logam mulia ini kesulitan muncul setelah mengalami tekanan pada sesi perdagangan Amerika. Sentimen negatif terhadap emas dinilai masih cukup kuat, seiring tren kenaikan harga minyak mentah yang terus mendominasi fokus pelaku pasar.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Bisnis

Bersih-Bersih Bursa Saham, OJK Jatuhkan 1.277 Sanksi dan Denda seratus Miliar Rupiah

Bisnis

Tensi Geopolitik Memanas, IHSG dan Rupiah Tertekan di Awal Pekan

Bisnis

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Bisnis

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

Bisnis

IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah

Bisnis

Danantara Optimistis, Penguatan IHSG Bukti Investor Percaya Fundamental Indonesia