Kitakininews.co.id - Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah akibat ancaman konflik terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran langsung memberikan pukulan telak bagi pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kompak mengalami koreksi tajam pada perdagangan hari ini.
Ekonom asal Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa tekanan pada pasar keuangan ini tidak terlepas dari sentimen global yang sangat sensitif terhadap eskalasi konflik militer.
"Kekhawatiran pelaku pasar langsung melonjak seiring kabar bahwa AS kembali menegaskan rencana serangan besar-besaran ke Iran, sekaligus menolak opsi perdamaian. Ini langsung memicu kepanikan di pasar komoditas dan keuangan global," ujar Gunawan saat dihubungi, Kamis (8/9/2026).
Dampak langsung dari situasi tersebut terlihat pada lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang melambung ke kisaran 105 dolar AS per barel pada perdagangan sore.
Kenaikan harga energi ini turut mendongkrak yield US Treasury tenor 10 tahun ke level 5,34%, yang kemudian memicu pelarian modal asing dari pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Di lantai bursa, IHSG ditutup melemah cukup dalam sebesar 1,88% ke level 6.031. Pergerakan indeks saham domestik ini berada di zona terendahnya sepanjang sesi perdagangan, sejalan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga mengalami pelemahan.
Gunawan menilai, penutupan di level terendah hari ini membuka peluang koreksi teknikal lanjutan. "IHSG kini berada dalam posisi rentan dan berpeluang besar untuk menguji level psikologis penting di 6.000 jika eskalasi di Timur Tengah terus memburuk tanpa ada sinyal pendinginan," tambahnya.
Tekanan eksternal juga menghantam mata uang Garuda. Rupiah ditutup melemah signifikan di level Rp17.895 per dolar AS, setelah mengalami tekanan jual sejak sesi perdagangan pagi dibuka.
Menariknya, di tengah gejolak geopolitik yang biasanya menjadi momentum bagi aset safe haven, harga emas justru tercatat mengalami koreksi ke level 4.122 dolar AS per troy ounce (atau setara dengan kisaran Rp2,38 juta per gram).
Koreksi pada emas ini menunjukkan tingginya kebutuhan likuiditas dolar di kalangan investor global di tengah kepanikan pasar yang meluas.
Gunawan mengingatkan para investor dan pelaku usaha di tanah air untuk tetap waspada dan mengambil langkah mitigasi risiko yang prudent.
Mengingat volatilitas pasar keuangan saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi militer di Timur Tengah, fleksibilitas finansial menjadi kunci utama untuk menghadapi ketidakpastian global dalam jangka pendek.