Ekonom : Lebaran Ini, Sumut Dibayangi Deflasi

- Jumat, 28 April 2023 20:25 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.kitakininews.co.id/uploads/images/202304/harga_pasar.png): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u808140588/domains/kitakininews.co.id/public_html/amp/detail.php on line 176

Kitakini.news - Biasanya di hari besar keagamaan memperlihatkan inflasi pada sejumlah kebutuhan pokok. Namun, di lebaran tahun ini, Sumut dibayangi deflasi.  

Hasil pantauan Tim Pemantau Harga Pasar Sumut dalam dua bulan terakhir, sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat justru mengalami penurunan. Harga cabai merah dan cabai rawit anjlok 27% di bulan April dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Disusul daging ayam anjlok 7%, minyak goreng curah anjlok 6.6%, dan bawang merah anjlok 5.6%. Sementara itu harga daging sapi naik dikisaran 5.1% hingga 5.6%, telur ayam naik 1.8%, dan harga beras kualitas bawah naik sekitar 2.7%. 

"Akan tetapi untuk kenaikan harga beras saya menilai ini pengecualian. Karena kenaikan harga beras tersebut terjadi disaat pemerintah menaikkan HPP beras. Jadi bukan karena demand yang membaik," tutur Ketua Tim Pemantau Harga Pasar Sumut Gunawan Benjamin, Jumat (28/4/2023).  

Kata Gunawan, memang ada tren kenaikan harga tiket pesawat di bulan April ini. Pemicu utamanya adalah rata rata harga minyak dunia yang lebih mahal di bulan April dibandingkan dengan Maret. Namun, lanjutnya, secara keseluruhan Sumut masih dibayangi deflasi, meskipun tetap tidak menutup kemungkinan akan mencetak inflasi sangat rendah.

"Kabar ini tentunya bukan kabar baik buat Sumut. Saya melihat inflasi bisa bergerak dalam rentang -0.23 hingga 0.1%. Artinya memang masih menunjukan adanya potensi deflasi. Dan tentunya masih lebih rendah dari perkiraan saya sebelumnya dimana inflasi akan paling  besar 0.2% di bulan april. Namun, kita menunggu rilis resmi BPS untuk kepastiannya," jelas dia.

Akan tetapi, lanjut Gunawan, kemungkinan deflasi atau inflasi kecil selama Ramadan dan Idul fitri tahun ini sebagai sinyal buruk. Dimana motor penggerak pertumbuhan ekonomi Sumut dari sisi belanja masyarakat tengah mengalami gangguan. 

Belanja atau pengeluaran masyarakat, kinerja ekspor, sektor pertanian, jasa angkutan, hingga konstruksi dikuartal pertama tahun ini berpeluang terkontraksi secara kuartalan.

Dia menjelaskan tren perlambatan ekonomi Sumut sudah terlihat sangat jelas saat ini. Tercermin dari gangguan daya beli yang sudah dirasakan dari penjualan ritel yang bergerak turun di kuartal pertama. Ini penyakit yang harus diantisipasi dan dicari obatnya. Namun sayangnya penyakit ekonomi Sumut ini dipengaruhi oleh resesi di negara lain. 

"Sehingga saya pesimis pemerintah mampu menghindari tekanan ekonomi eksternal. Tetapi saya masih optimis pemerintah setidaknya bisa meminimalisir penambahan jumlah masyarakat miskin," tandasnya.

Redaksi


Tag:

Berita Terkait

Bisnis

Pemko Medan Optimalkan Realisasi APBD 2026

Bisnis

Kabut Asap di Medan, Lurah Sari Rejo Bagikan 500 Masker Gratis

Bisnis

Polisi Gerebek Kampung Nelayan Batubara, 3 Pria Diamankan

Bisnis

Harga Cabai Rawit di Medan Tembus Rp 95.000 Per Kilogram

Bisnis

Bapenda Medan Hadirkan “Lapor Bapenda”, Pengaduan Pajak Kini Online

Bisnis

Usung Misi Kebangkitan di Bekasi, PSMS Medan Siap Perpanjang Catatan Minor Semen Padang