Berikut Hasil Pantauan KPPU di Pasar Tradisional Medan Jelang Nataru

- Kamis, 22 Desember 2022 20:57 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.kitakininews.co.id/uploads/images/202212/kppu1.png): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u808140588/domains/kitakininews.co.id/public_html/amp/detail.php on line 176

Kitakini.news - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil I memantau komoditas beras, daging ayam, telur dan gula pasir menunjukan peningkatan harga sampai dengan pekan III bulan Desember 2022. Sementara komoditas minyak goreng dan daging sapi terpantau stabil. 

"Pada komoditi hortikultura, komoditas cabai merah, cabai rawit dan bawang putih menunjukan tendensi peningkatan pada pekan III Desember. Umumnya dipengaruhi keterbatasan pasokan menjelang berakhirnya panen hortikultura dan peningkatan permintaan masyarakat," ujar Kepala KPPU Kanwil I Ridho Pamungkas, Kamis (22/12/2022).

Ridho menjelaskan hasil pengawasan jelang Nataru ini, kenaikan harga telur disebabkan oleh adanya kenaikan harga pakan ternak yang berdampak pada peternak mengurangi pembelian anak ayam yang berpengaruh pada pasokan telur kepada distributor. Disamping tingginya permintaan menjelang nataru serta faktor cuaca yang tidak mendukung sehingga banyak ayam yang mati. Selain itu, banyaknya telur yang dijual ke luar Sumatera Utara yaitu Jakarta, Aceh dan Batam sehingga mempengaruhi berkurangnya jumlah pasokan dan meningkatnya harga telur.

"Harga telur di tingkat produsen relatif stabil, namun terjadi peningkatan harga di tingkat pedagang besar dan eceran dimana margin perdagangan semakin melebar," tukasnya.

Kemudian, untuk daging ayam, harga rata-rata di pasar tradisional Kota Medan mengalami kenaikan rata-rata yaitu Rp 29 ribu hingga Rp 34 ribu/kg. Dalam hal ini, lanjut dia, harga daging ayam masih dibawah harga acuan penjualan di tingkat konsumen yaitu Rp 36,750. Dan untuk stok aman dengan penjualan rata-rata 100 ekor per hari.

Hasil pantauan, jelas Ridho, terdapat kenaikan biaya input produksi yaitu kenaikan harga pakan ayam dan biaya distribusi. Kenaikan harga dipicu berakhirnya masa panen peternakan ayam serta meningkatnya permintaan masyarakat menjelang HKBN dan peningkatan frekuensi pesta perayaan oleh masyarakat.

"Harga ayam hidup di tingkat produsen relatif stabil, namun terjadi peningkatan harga di tingkat pedagang besar dan eceran dimana margin perdagangan dari produsen ke konsumen hampir 1,6 kali lipat," pungkasnya.

Redaksi


Tag:

Berita Terkait

Bisnis

Tertarik Bisnis Glamping, Christian Sugiono Pilih Bali Jadi Lokasi

Bisnis

Wabup Kutai Tinjau Pengembangan Agribisnis Aren di Pesantren Al Hidayah Deli Serdang

Bisnis

Dulu Saksikan dari Tribun, Kini Herna Pardede Kagum pada Transformasi Nova Arianto

Bisnis

Sofyan Tan Ungkap Kunci Jadi Dosen yang Dicintai Mahasiswa, dan Mampu Ciptakan Outcome Nyata di Dunia Digital

Bisnis

XLSMART Catat Pendapatan Rp11,84 Triliun di Kuartal I 2026, Tumbuh 38 Persen

Bisnis

PGN Raih Pengakuan TIME, Employee Engagement Capai 87,74%