Dugaan Saham Gorengan Picu IHSG Anjlok, Bareskrim Polri Selidiki Unsur Pidana

M Harizal - Jumat, 30 Januari 2026 16:51 WIB
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak. (Foto : Tqngkqpan layar)

Kitakini.news -Kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memicu perhatian aparat penegak hukum. Bareskrim Polri memastikan tengah menyelidiki kemungkinan unsur pidana terkait dugaan praktik "saham gorengan" yang disebut ikut memicu tekanan di pasar modal.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak mengatakan penyidik saat ini sudah menangani sejumlah perkara serupa.

"Pasti. Saat ini pun penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri sedang melakukan penyelidikan dan penyidikan atas beberapa perkara serupa," ujar Ade kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).

Pernyataan itu disampaikan saat menanggapi kemungkinan pendalaman pidana atas dugaan praktik manipulasi saham atau saham gorengan yang disebut-sebut berkaitan dengan anjloknya IHSG dalam dua hari terakhir.

Ade menegaskan, penanganan perkara manipulasi saham bukan hal baru. Ia mencontohkan kasus yang telah diproses hingga berkekuatan hukum tetap (inkrah), yakni perkara yang menjerat Direktur PT Multi Makmur Lemindo, Junaedi, dan mantan pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI), Mugi Bayu.

Keduanya dinyatakan bersalah melanggar Pasal 104 junto Pasal 90 huruf C Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pengadilan menjatuhkan pidana penjara masing-masing 1 tahun 4 bulan serta denda Rp2 miliar.

"Kami jamin penyidikan atas perkara a quo akan berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel," tegas Ade.

Menkeu: Tekanan IHSG Sementara, Fundamental Ekonomi Kuat

Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan IHSG dipicu faktor teknis dan sentimen jangka pendek, termasuk masih maraknya saham gorengan di pasar.

Menurut Purbaya, koreksi dua hari beruntun indeks tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

"Ini jelas shock sementara, karena fundamental kita enggak masalah," ujarnya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, salah satu pemicu tekanan pasar adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti aspek transparansi dan perhitungan free float saham di Indonesia.

Meski demikian, Purbaya optimistis posisi Indonesia tidak akan turun kelas menjadi pasar frontier karena fondasi ekonomi dinilai kuat dan perbaikan akan dilakukan oleh otoritas terkait.

"OJK saya pastikan akan melakukan perbaikan terhadap catatan MSCI," katanya, seraya menyebut Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar akan menindaklanjuti isu tersebut.

Purbaya bahkan menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai 6 persen apabila reformasi dan pembenahan pasar terus dilakukan.

Seruan Bersihkan Bursa dari Saham Gorengan

Di sisi lain, Purbaya mengingatkan pentingnya pembersihan pasar dari saham-saham spekulatif yang tidak ditopang fundamental kuat.

"Bersihkan bursa dari saham gorengan. Yang bluechip itu kena dampak sentimen, tapi fondasinya tetap kuat," ujarnya.

Ia menyarankan investor agar lebih selektif dan mengutamakan saham berfundamental baik saat terjadi gejolak pasar.

IHSG Sempat Anjlok Lebih dari 9 Persen

Tekanan jual yang besar membuat Bursa Efek Indonesia sempat melakukan trading halt atau penghentian perdagangan sementara selama 30 menit.

Pada pukul 09.58 WIB, IHSG tercatat turun 9,14 persen atau melemah 760,76 poin ke level 7.559,8. Sebanyak 728 saham terkoreksi, 196 stagnan, dan hanya 34 saham yang menguat.

Nilai transaksi mencapai Rp11,95 triliun dengan volume 14,03 miliar saham dalam 928.900 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp13.659 triliun.

Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan besar di hampir seluruh sektor, meski otoritas menilai gejolak ini bersifat sementara dan lebih dipengaruhi faktor teknis serta sentimen pasar jangka pendek.

Dengan adanya penyelidikan aparat penegak hukum dan rencana pembenahan regulasi serta pengawasan pasar, pemerintah berharap kepercayaan investor dapat kembali pulih dan volatilitas pasar mereda.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait