Kitakini.news -Sebuah
studi menunjukkan kalau
kanker bisa muncul karena latar belakang sosial ekonomi seseorang. Dengan kata lain, orang kaya memiliki risiko lebih besar terkena
penyakit ini.
Melansir berbagai sumber, Selasa (14/1/2025), ada studi yang dilakukan di Universitas Helsinki, Finlandia, yang meneliti kaitan antara status sosial ekonomi (SES) dengan berbagai penyakit.
Mereka yang bisa menikmati penghasilan tinggi ditemukan memiliki risiko genetik lebih tinggi terhadap kanker payudara, prostat, dan jenis kanker lainnya, menurut hasil penelian tersebut.
Sebaliknya, ahli mengungkapkan bahwa golongan orang yang kurang mampu, secara genetik lebih rentan terkena diabetes, radang sendi, depresi, alkoholisme, dan kanker paru-paru.
"Orang-orang kaya memiliki akses lebih baik terhadap perawatan kesehatan, termasuk pemeriksaan dan pengetahuan yang lebih baik," kata Fiona Hagenbeek, pemimpin studidari Institut Molekuler Finlandia (FIMM).
Artinya, hal ini boleh jadi membuat deteksi dan diagnosis kanker menjadi lebih baik pada kelompok tersebut.
Hagenbeek juga mengatakan, hasil awal penelitian dapat menghasilkan skor risiko poligenik, yang digunakan untuk mengukur risiko penyakit berdasarkan genetika.
Semakin banyak skrining yang dilakukan dari pengukuran risiko tersebut, semakin banyak penyakit yang terungkap.
"Memahami bahwa dampak skor poligenik pada risiko penyakit bergantung pada konteks dapat mengarah pada protokol skrining yang lebih berkelanjutan," ungkap Hagenbeek.
Dalam penelitian ini, tim mengumpulkan data genomik, SES, dan kesehatan dari sekitar 280 ribu warga Finlandia, berusia 35 hingga 80 tahun.
Penelitian ini disebut merupakan yang pertama dalam mencari kaitan antara 19 penyakit umum di negara-negara berpenghasilan tinggi.
"Sebagian besar model prediksi risiko klinis mencakup informasi demografi dasar seperti jenis kelamin dan usia biologis, dengan fakta bahwa kejadian penyakit yang dialami berbeda antara pria dan wanita, dan bergantung pada usia," jelas Hagenbeek.
Mengetahui hal-hal tersebut menjadi sangat penting ketika menggabungkan informasi genetik ke dalam perawatan kesehatan.
"Namun kini, kami dapat menunjukkan bahwa prediksi genetik risiko penyakit juga bergantung pada latar belakang sosial ekonomi seseorang," tambah Hagenbeek.
Para peneliti tersebut menunjukkan bahwa penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk memahami sepenuhnya hubungan antara profesi tertentu dan risiko penyakit.
Mereka berusul, penelitian juga harus dilakukan di negara-negara berpendapatan rendah. Pasalnya, studi saat ini hanya fokus pada individu keturunan Eropa.