Kitakininews.co.id - Columbia Asia Hospital Medan berhasil mencatat terobosan baru dalam penanganan pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Melalui penerapan metode multidisiplin terintegrasi, fasilitas kesehatan ini mampu meningkatkan hasil klinis (clinical outcome) perawatan pasien hemodialisis (cuci darah) hingga 20 persen lebih baik dibandingkan metode konvensional.
Hal tersebut terungkap dalam seminar ilmiah bertajuk "Deteksi Dini Pada Hemodialysis Access Management" yang digelar di Hotel Four Points Medan, Sabtu (4/7/2026). Acara ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Columbia Asia Hospital Medan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dan Lembaga Pelatihan Kesehatan (LPK) Prima Indonesia.
Direktur Columbia Asia Hospital Medan, Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., FISQua, menegaskan bahwa standar layanan cuci darah saat ini telah berkembang pesat demi mengutamakan keselamatan dan kenyamanan jangka panjang bagi pasien.
"Praktek multidisiplin ini melibatkan sinergi antara dokter umum selaku petugas tata laksana, pemantauan intervensi dari Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular, serta Spesialis Nefrologi. Hasilnya, clinical outcome tercatat 20% lebih baik daripada cara konvensional, dan metode ini sudah diimplementasikan penuh di Columbia Asia Hospital Medan," ujar Dr. dr. Beni Satria.
Selain mengandalkan kolaborasi dokter spesialis, rumah sakit juga menerapkan siklus "single use" (satu kali pakai) untuk seluruh instrumen dialisis. Langkah tegas ini diambil untuk meningkatkan kualitas sterilisasi dan meminimalkan risiko infeksi, mengingat pasien gagal ginjal harus menjalani rawatan ini secara berkala.
Tantangan terbesar bagi pasien yang bergantung pada cuci darah adalah menjaga jalur atau akses pembuluh darah mereka (AV Fistula atau AV Graft) agar tetap berfungsi optimal. Jika jalur tersebut mengalami penyempitan atau penyumbatan, proses cuci darah bisa terhambat dan mengancam nyawa pasien.
Pakar Bedah Vaskular dan Endovaskular, dr. Muhammad Khadafi, Sp.B, Subsp. BVE(K), menjelaskan bahwa seiring kemajuan teknologi medis, dokter kini memiliki opsi penanganan yang jauh lebih minim risiko (minimal invasif) untuk menyelamatkan akses tersebut.
"Jika ada penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah di mana akses vaskular sudah dibuat, dulu bisa dikatakan 'mati' atau tidak bisa diapa-apakan lagi, sehingga harus buat akses baru. Namun sekarang, berkat inovasi, kita bisa melakukan intervensi minimal invasif menggunakan balon, tergantung kasusnya," kata dr. Khadafi.
Dia menekankan, teknologi yang dikembangkan bersama perusahaan medis global seperti Boston Scientific Indonesia ini bukan untuk menyembuhkan total gagal ginjal, melainkan menjaga "napas" atau kelancaran akses hemodialisis agar pasien dapat menjalani proses cuci darah dengan lebih lancar dan berkualitas.
Bahkan, bagi pasien yang telah menjalani transplantasi ginjal sekali pun, akses pembuluh darah ini tetap dipersiapkan sebagai rencana cadangan (backup). Langkah antisipasi ini penting jika sewaktu-waktu tubuh pasien mengalami penolakan (reject) terhadap ginjal yang baru ditanam.
Dalam sesi konferensi pers, dr. Khadafi turut didampingi oleh rekan sejawatnya, dr. Mohammad Nazril Rizki, M.Ked(Surg), Sp.B, Subsp. BVE(K), serta Mr. Alphons Festus selaku Country Director Boston Scientific Indonesia dan perwakilan tim dari Boston.
Meskipun teknologi intervensi medis di Kota Medan sudah setara dengan standar internasional, tantangan terbesar berikutnya adalah membangun kesadaran (awareness) di sisi pasien. Penyakit ginjal kronis dikenal sebagai silent killer karena tidak menimbulkan gejala (symptom) yang signifikan pada stadium awal.
Menyikapi hal itu, Columbia Asia Hospital Medan berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat Sumatera Utara agar beralih ke paradigma preventif—mencegah lebih baik daripada mengobati.
Pihak manajemen berencana menyelenggarakan temu ilmiah secara rutin dan memfasilitasi paket-paket pemeriksaan kesehatan ginjal yang terjangkau. Langkah nyata ini diharapkan mampu mendeteksi penurunan fungsi ginjal sejak dini, sekaligus menekan laju pertumbuhan kasus gagal ginjal kronis di wilayah Medan dan sekitarnya.