Antara DSA dan Brainwash, Mengurai Persepsi Penanganan Stroke Menurut Pakar Neurologi RS Columbia Asia Medan

Siti Amelia - Rabu, 26 Agustus 2026 15:13 WIB
amelia
Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Asia Medan, dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS.

Kitakininews.co.id - Kasus stroke kini makin mengintai usia muda. Jika dahulu gangguan pembuluh darah otak ini dominan menyerang kelompok usia lanjut di atas 60 tahun, kini tak sedikit pasien berusia akhir 30 hingga awal 40 tahun yang berjatuhan akibat serangan stroke. Di tengah ancaman ini, kesadaran masyarakat akan metode diagnostik dan pengobatan stroke kerap diwarnai salah kaprah, terutama mengenai istilah Digital Subtraction Angiography (DSA) dan metode brainwash.

Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Asia Medan, dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara prosedur diagnostik terstandar dan terapi berbasis penelitian agar tidak salah mengambil keputusan medis.

Banyak orang menggeneralisasi bahwa DSA adalah brainwash. Menurut dr. Steven, hal ini merupakan persepsi yang keliru. "DSA itu adalah metode pemeriksaan medis standar internasional untuk mendeteksi pembuluh darah. Secara historis, DSA pertama kali ditemukan oleh Egas Moniz, seorang pakar asal Portugis, dan bukan pencetus brainwash," ujar dr. Steven kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).

Dijelaskannya, prosedur DSA bekerja layaknya kateterisasi pada jantung. DSA ini, jelas dia, yang juga ada di RS Columbia Asia Medan, merupakan tindakan invasif ringan menggunakan kateter untuk memetakan aliran darah di leher hingga kepala secara real-time melalui gambar bergerak (video), bukan sekadar foto statis seperti CT scan atau MRI biasa.

Sementara itu, sambungnya, brainwash (cuci otak), yang populer lewat tindakan heparin flushing merupakan bentuk terapi yang dicetuskan dan dipopulerkan oleh Prof. Terawan. "Kalau DSA itu pemeriksaan diagnostik terstandar global. Kalau kita bicara DSA di Singapura, Jepang, atau Amerika Serikat, para medis di sana paham itu pemeriksaan. Tapi kalau kita bilang brainwash, mereka bingung karena itu kearifan lokal," jelasnya.

dr. Steven menekankan, dirinya tidak dalam posisi mendukung maupun menentang terapi brainwash. Menurut kode etik medis, suatu pengobatan baku harus berpijak pada standar guideline dan penelitian medis komprehensif.

"Saya mengategorikan brainwash sebagai pengobatan berbasis penelitian, sama halnya seperti stem cell atau terapi kemoterapi tertentu yang masih dikembangkan. Belum ada bukti riset yang menyatakan itu jelek, tetapi juga belum ada standar bukti klinis global yang menyatakan itu bagus. Jadi, keputusan sepenuhnya kembali kepada hak pasien setelah mendapatkan pemahaman yang benar," tambahnya.

Mitos Obat Penurun Tensi dan Ancaman Stroke Usia Muda

Selain meluruskan persepsi prosedur medis, dr. Steven menyoroti pola hidup dan persepsi salah mengenai konsumsi obat-obatan kronis. Perubahan gaya hidup modern, tingginya konsumsi karbohidrat, gorengan, gula, garam, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama meningkatnya kasus stroke di usia produktif.

Dia membeberkan salah satu pemicu fatal serangan stroke berulang, yakni berhentinya konsumsi obat darah tinggi akibat terpengaruh mitos di media sosial. "Banyak pasien menghentikan obat tensi karena mendengar kabar burung atau edukasi keliru di media sosial seperti TikTok dan Instagram yang menyebut obat darah tinggi bisa merusak ginjal. Ini salah kaprah," tegas dr. Steven.

Menurutnya, ginjal justru rusak akibat kondisi darah tinggi dan gula darah yang tidak terkontrol, bukan karena obat-obatan yang dikonsumsi di bawah pengawasan dokter. Menghentikan obat darah tinggi secara sepihak berisiko fatal memicu stroke sumbatan maupun pendarahan yang berujung pada kelumpuhan permanen.

Golden Period dan Deteksi Dini

Dijelaskan dr. Steven, stroke merupakan penyebab cacat nomor satu dan penyebab kematian nomor dua di dunia. Keparahan gejalanya sangat bergantung pada lokasi penyumbatan. Jika terjadi pada otak kiri, dampaknya akan terasa pada anggota gerak tubuh sebelah kanan dan sering kali disertai gangguan bicara atau komunikasi secara total.

Dalam penanganan stroke akut, kata dia, waktu adalah kunci utama (golden period). Jika pasien tiba di rumah sakit dalam rentang waktu kurang dari 4,5 jam hingga 24 jam, tindakan evaluasi dan penanganan darurat seperti trombektomi (penarikan sumbatan pembuluh darah) dapat menyelamatkan fungsi otak dari kerusakan permanen. Dan Rumah Sakit Columbia Asia Medan terus berkomitmen menyediakan fasilitas kesehatan modern dan penanganan komprehensif bagi pasien stroke maupun gangguan neurologis lainnya.

Hospital CEO RS Columbia Asia Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini (medical check-up) serta berkonsultasi dengan tenaga medis profesional adalah langkah krusial dalam menekan angka kecacatan akibat stroke.

Edukasi yang tepat serta pemahaman menyeluruh terhadap tindakan medis diharapkan dapat membantu masyarakat memilah informasi kesehatan secara bijak dan mengutamakan pencegahan melalui pola hidup sehat.

"Pesan kami sederhana, kenali gejalanya, jangan menunda pertolongan, dan percayakan keputusan pemeriksaan maupun tindakan kepada tim medis. Kehadiran layanan DSA merupakan bagian dari upaya RS Columbia Asia Medan menyediakan teknologi yang dapat mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi," tandasnya.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan dan Kecantikan

Mendadak Divonis Kena Stroke, Betharia Sonata: Tidak Boleh Disepelekan

Kesehatan dan Kecantikan

Deteksi Dini Gangguan Saraf Penting, Nyeri Kepala Berkepanjangan Jangan Dianggap Sepele

Kesehatan dan Kecantikan

RS Adam Malik Raih Sertifikasi Internasional Advanced Stroke Centre dari WSO

Kesehatan dan Kecantikan

Awas! Minuman Ini Picu Stroke: Semua karena Gula

Kesehatan dan Kecantikan

Sempat Pusing dan Linglung, Kak Seto Kena Stroke

Kesehatan dan Kecantikan

Awas, Stroke Ringan Incar Pekerja Kantoran Usia 30-an