Kitakini.news - Dalam beberapa tahun terakhir, China mengalami tren baru yang mencuri perhatian: munculnya fasilitas panti jompo untuk anak muda.
Fenomena ini, yang mungkin terdengar tidak biasa, sebenarnya mencerminkan kondisi ekonomi dan sosial yang lebih luas. Menurut analis, tren ini muncul sebagai respons terhadap ekonomi yang lesu, pasar kerja yang sangat kompetitif, dan biaya hidup yang terus meningkat.
Zak Dychtwald, pendiri Young China Group, menjelaskan bahwa panti jompo untuk anak muda ini merupakan gejala dari masalah yang lebih besar, yaitu kelesuan ekonomi dan pasar kerja.
"Generasi muda kini harus mengintegrasikan realitas ekonomi baru ke dalam pandangan mereka," ujar Dychtwald, dilansir dari instagramnya @zacktoearth, Selasa (13/8/2024).
Biaya untuk tinggal di fasilitas ini cukup bervariasi. Untuk menikmati layanan yang disediakan, pengunjung harus membayar sekitar 138 yuan (sekitar Rp 307 ribu) per hari atau 3.599 yuan (sekitar Rp 7,9 juta) per bulan.
Mayoritas penghuni fasilitas ini berusia antara 20 hingga 40 tahun, termasuk pekerja lepas, profesional yang mengalami stagnasi karier, hingga mereka yang hanya penasaran dengan konsep tersebut.
Pimpinan dari fasilitas "panti jompo" anak muda menjelaskan bahwa layanan mereka bertujuan untuk menyediakan ruang bagi pencarian kedamaian batin dan gaya hidup yang tenang.
Kehidupan para pengunjung fasilitas ini seringkali dipenuhi dengan tekanan, sehingga mereka mencari tempat yang bisa memberikan ketenangan.
Namun, tidak semua fasilitas "panti jompo" ini menerima pelanggan dari semua usia. Beberapa di antaranya menetapkan batas usia, hanya melayani orang yang berusia di bawah 45 tahun.
Tren ini mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang generasi muda terhadap kesejahteraan dan keseimbangan hidup di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang semakin kompleks.*