Kitakini.news - Setuju atau tidak setuju overthingking kerap terjadi saat
malam hari. Kenapa tidak ketika pagi, siang, atau sore? Anda tahu alasannya?
Melansir berbagai sumber, Sabtu (28/2/2026) overthinking atau berpikir berlebihan adalah pemikiran negatif yang repetitif dan sering terjadi ketika seseorang berada dalam kondisi tenang dan tidak sibuk.
"Secara medis atau secara psikologis, pemikiran yang negatif dan repetitif terjadi ketika orang dalam keadaan lagi sendiri, lagi tenang dan tidak sibuk," kata Dokter Ray Waigu Basrowi, pendiri Health Collaborative Center (HCC), beberapq waktu lalu.
"Rata-rata manusia pada malam hari sudah mau istirahat, sudah mau tidur mengalami ini," tambahnya.
Artinya, ketika siang hari, pikiran lebih sibuk dengan berbagai aktivitas, seperti pekerjaan, sekolah, hingga interaksi sosial.
Namun, saat malam tiba, tubuh bersiap untuk beristirahat, sementara otak justru mulai memproses berbagai pengalaman dan kekhawatiran yang tertunda sepanjang hari.
Akibatnya, bagi mereka yang rentan berpikir negatif, overthinking pun menjadi lebih dominan.
"Sebelum tidur pemikirannya ke mana-mana, jadinya repetitif negatif. Kalau orangnya berpikir positif sebelum tidur, biasanya tidak akan overthinking," kata Ray.
Yang jelas, overthinking yang terjadi di malam hari bukan hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.
Ketika seseorang terus menerus terjebak dalam siklus overthinking, ia berisiko mengalami insomnia atau kesulitan tidur.
Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, maka produktivitas di siang hari pun akan menurun.
Ketika kualitas tidur berkurang, tubuh jadi tidak produktif karena di siang hari staminanya berkurang.
Jika hal ini berlangsung lama dan terus-menerus maka akan menyebabkan depresi yang berujung pada depresi self harm.
Yakni, menarik diri dari kehidupan sosial yang tidak bagus secara individu.