Kitakini.news - Sejak masa kejayaanKesultanan Deli, tradisi bagi bagi takjil bubur sup di bulan puasa tidak pernahpunah. Di balikkemegahan Masjid Raya Al Mashun Medan hingga jadi Ikon kota, ternyata memilikicerita kebudayaan tersendiri di Bulan Ramadan.
Kebiasaan yangdilakukan Sultan Deli ke rakyatnya masih tertanam hingga saat ini, yaknimenyalurkan takjil makanan untuk berbuka puasa secara gratis.Namun sekarang ini proses pembagiannya sangatberbeda ketika pada masa kesultanan Deli.
Dimana, Warga kota Medan harus mengantrehingga berebut ketika bubur sup itu dibagikan usai dimasak oleh pihak pengurusmasjid. Mereka membawa aneka ragam bentuk tempat untuk wadah menampung bubursup tersebut. Tiap warga yang mengantre akan diberikan bubur sup sebanyak satusekopan pengaduk bubur sup saja. Namunapabila berlebih akan dibagikan lagi secara gratis.
Menurut Pengurus Masjid Raya Al MashunMedan, Hamdan, rebutan ini bukan tradisi yang ditinggalkan oleh kesultananDeli. Melainkan memang warga yang penerima tidak sabar sehingga terjadi rebutandan desak desakan karena mengejar jam berbuka puasa.
Menurut Hamdan, bubur sup takjil berbukapuasa Sultan Deli ini, tidak ada khasiat apapun, hanya saja bubur sup diyakinisangat baik dikonsumsi saat berbuka puasa karena panganan ini lunak dan lembut,maka baik untuk tubuh yang berjam jam tidak makan dan minum.
Bubur sup ini pun diketahui pada masakesultanan Deli takjil ini untuk orang-orang musafir pada bulan puasa ketikamasuk ke wilayah kesultanan Deli karena Sultan Deli yang peduli dan sangatdermawan bubur sup itulah menjadi makanan persembahan bagi tamu-tamu yangdatang ketika di bulan Ramadan.