Banjir Bandang Kota Wisata Parapat Diduga Akibat Penebangan Liar, kata Penrad

Heru - Rabu, 19 Maret 2025 01:47 WIB
(Dok. DPD RI)
Anggota DPD RI, Pdt. Penrad Siagian

Kitakini.news -Anggota DPD RI, Pdt.Penrad Siagian menduga kuat banjir bandangyang menerjang Kota Wisata Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, KabupatenSimalungun, Minggu (16/3/2025) sore kemarin, terjadi akibat adanya penebanganliar (Illegal Logging) dan aktivitas perkebunan kayu Eukaliptus yang ada dikawasan Danau Toba.

"Konsesi yang tidaktransparan tentang batas-batasnya, patut diduga ini adalah tindakan illegal loggingberkedok konsesi. Dan ini harus diusut tuntas," cetus Penrad melalui keterangantertulisnya yang diterima redaksi, Selasa (18/3/2025).

Hal ini disampaikan Penrad Siagian merespon peristiwabanjir bandang yang menerjang kawasan wisata Parapat, tepatnya di JalanSisingamaraja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, SumatraUtara, pada Minggu (16/3/2025) sore.

Penrad menyatakan, hutan gundul akibat penebangan liarmembuat struktur tanah menjadi longgar dan kehilangan daerah resapan air.Untuk itu, Penradmendesak seluruh kepala daerah dan aparat penegak hukum di Kawasan Danau Tobabersikap tegas terhadap praktik illegal logging.

Material batu dan lumpur yang mengalir deras dari Sungai BatuGaga menyebabkan sejumlah kendaraan terjebak dan beberapa bangunan rusak.Fasilitas kesehatan, termasuk Unit Gawat Darurat (UGD) di RSUD Parapat, jugaterendam banjir.

"Kepala daerahdan aparat penegak hukum yang ada di Kawasan Danau Toba (KDT) harus mengambilsikap atas semua tindakan illegal logging yang kerap terjadi di KDT. Bagaimanamungkin daerah yang berada di dataran tinggi bisa mengalami banjir seperti ini.Ini banjir bandang yang artinya kiriman dari bukit yang sudah gundul," tandasnya.

Tak hanya itu, Penrad juga mengkhawatirkan dampak banjir bandang initerhadap daerah-daerah satelit Parapat."Jikabukit-bukit dan hutan yang ada di perbukitan terus digunduli, kota-kota satelitseperti Pematangsiantar, Dairi, Toba dan wilayah lainnya akan mengalami banjirkiriman dari perbukitan yang ada di Kawasan Danau Toba," bebernya.

Seperti diketahui, Diketahui, pada 1 Desember 2024 lalu, banjir bandangdan tanah longsor juga melanda Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja,Kabupaten Humbang Hasundutan.

Akibat kejadiantersebut, sebanyak 12 orang dinyatakan hilang, dan hingga hari keenam, hanyadua korban yang ditemukan dalam kondisi meninggal.

Sekitar 160 jiwamengungsi di Kantor Camat Baktiraja dan Gedung Serbaguna HKBP SimanullangSinambela. Bencana tersebut juga merusak gedung Hotel Senior, fasilitas gereja,fasilitas umum, dan puluhan hektar lahan pertanian warga.

Pada saat itu,lanjut Penrad, tim investigasi yang dibentuk Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprovsu)menemukan dugaan perambahan hutan (illegal logging) pasca-bencana di DesaSimangulampe.

Oleh sebab itu,Penrad menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah serius untukmengatasi kerusakan lingkungan di Kawasan Danau Toba.

"Konsesi yangsampai saat ini tidak jelas atau tidak transparan tentang batas-bataskonsesinya. Ini bukan soal jumlah. Jumlahnya memang ada tetapi tidak jelasbatas-batasnya di mana saja. Sehingga bisa diduga itu adalah illegal loggingberkedok konsesi!" pungkasnya. (Rel/**)

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

News

28 Cabor Medan Ancam Mundur seperti Pertina, Desak Wali Kota Rico Turun Tangan

News

Polres Nias dan BNN Gunungsitoli Gerebek Kos, Enam Orang Direkomendasikan Rehabilitasi

News

Pupuk Subsidi Langka dan Mahal, Mangapul Purba Desak Pemerintah Turun Tangan

News

Perempuan 56 Tahun Ditemukan Meninggal di Bekas Kolam Ikan di Nias

News

Pertina Medan Keberatan Kontingen Porprovsu Dikelola Dispora, Ancam Tak Berangkatkan Atlet

News

Aris Rinaldi Nasution Kembali Pimpin Forwakum Sumut, Tekankan Soliditas Organisasi