Sofyan Tan: Cegah Stunting Sejak Masa Hamil dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan

M Harizal - Jumat, 13 Februari 2026 18:19 WIB
Anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr Sofyan Tan bersama peserta bimbingan teknis Faktor Risiko Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di,Medan, Jumat (13/2/2026). (Foto : Nal)
Kitakini.news -Anggota Komisi X DPR RI,Sofyan Tan, memaparkan secara rinci tahapan pencegahan stunting mulai dari kondisi ibu hamil hingga indikator kesehatan bayi setelah lahir dalam kegiatan Bimbingan Teknis Faktor Risiko Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Kegiatan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI tersebut berlangsung di Hotel Le Polonia,Medan, Jumat (13/2/2026).

Dalam pemaparannya, Sofyan Tan menjelaskan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Ia menegaskan pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan, bahkan sejak kondisi kesehatan ibu sebelum melahirkan.

"Stunting dimulai dari kondisi ibu saat hamil. Kalau ibunya kurang gizi, mukanya pucat, sering pusing, tensi rendah, kurang darah, itu sudah menjadi faktor risiko," ujarnya.

Peran Gizi Ibu dan Faktor Sosial Ekonomi

Sofyan Tan menjelaskan faktor kemiskinan kerap menjadi penyebab utama ibu hamil mengalami kekurangan gizi. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat sebagian ibu harus membagi asupan makanan dengan anggota keluarga lain, sehingga kebutuhan nutrisi selama kehamilan tidak terpenuhi secara optimal.

Dengan pendekatan humanis, ia menggambarkan besarnya pengorbanan seorang ibu dalam keluarga.

"Saat anak makan, ibu bilang sudah makan, padahal belum. Ia menahan lapar demi anaknya lebih dulu makan," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru berisiko terhadap kesehatan ibu dan janin, karena kekurangan gizi selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan.

Selain faktor gizi, ia menyoroti jarak kehamilan yang terlalu dekat sebagai faktor risiko stunting. Tubuh ibu yang belum pulih sepenuhnya setelah persalinan, bahkan masih dalam masa menyusui, sudah kembali hamil sehingga kondisi fisik belum optimal.

"Kurang dari setahun sudah melahirkan, lalu hamil lagi. Tubuh ibu belum kembali normal, ini berisiko bagi kesehatan ibu dan bayi," jelasnya.

Risiko Kelahiran Prematur dan Indikator Kesehatan Bayi

Pada tahap persalinan, Sofyan Tan menekankan pentingnya usia kehamilan ideal, yakni 38 hingga 40 minggu. Bayi yang lahir prematur, terutama di bawah usia kehamilan 32 minggu atau sekitar tujuh bulan, berisiko mengalami gangguan perkembangan organ.

Ia menjelaskan, pada kelahiran prematur, organ vital seperti jantung belum berkembang sempurna sehingga dapat mengganggu suplai oksigen dalam tubuh bayi dan berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan jangka panjang.

Lebih lanjut, ia memaparkan ukuran fisik ideal bayi baru lahir sebagai indikator kesehatan awal. Berat badan normal bayi perempuan berkisar antara 2,4 hingga 3,7 kilogram, sedangkan bayi laki-laki 2,5 hingga 3,9 kilogram, dengan panjang badan umumnya antara 46 hingga 53 sentimeter. Selain itu, ukuran lingkar kepala juga harus diperhatikan agar proporsional dengan tubuh.

Menurutnya, tanda kekurangan gizi pada anak dapat terlihat sejak usia satu hingga dua tahun, seperti kulit kering dan bersisik, elastisitas kulit menurun, anak mudah rewel, sering menangis, serta kurang aktif.

ASI Eksklusif dan Asupan Protein Jadi Kunci

Sebagai langkah pencegahan, Sofyan Tan menekankan pentingnya pemenuhan gizi ibu hamil dengan konsumsi protein tinggi, seperti telur dan ikan. Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif menjadi faktor utama untuk memastikan pertumbuhan optimal.

Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.

"Pencegahan stunting menyangkut masa depan generasi bangsa, karena perkembangan otak dan kecerdasan anak ditentukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan," tegasnya.

Data Stunting dan Pentingnya Peran Keluarga

Sementara itu, Peneliti Ahli Muda BRIN, Slamet Riyanto, S.Gz., M.PH., menyampaikan bahwa persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya ibu, tetapi juga ayah dan remaja sebagai calon orang tua.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Sumatera Utara masih mencapai sekitar 22 persen atau satu dari lima balita. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan edukasi gizi, perbaikan pola asuh, serta penguatan intervensi kesehatan sejak dini.

Selain pemenuhan gizi, stimulasi perkembangan anak juga dinilai sangat penting untuk mendukung kecerdasan dan kemampuan kognitif.

"Cegah stunting bukan sekadar supaya anak tidak pendek. Yang lebih penting adalah agar IQ anak berkembang optimal," ujarnya.

Melalui kegiatan bimbingan teknis ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, guna menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

News

Sofyan Tan dan Bocah Ginting, Momen Hangat di Tengah Serap Aspirasi STM Hilir

News

Bedah Buku Tionghoa Medan, Sofyan Tan Sebut Budaya Tak Mengenal Pagar

News

Sofyan Tan Perioritaskan Pendidikan Untuk Kalangan Kurang Mampu

News

Sofyan Tan Ajak Masyarakat Dukung Sensus Ekonomi 2026: Data Bukan untuk Pajak

News

Sofyan Tan Terharu, Warga Sibiru-biru Hadiahi Petai hingga Nenas sebagai Ungkapan Terima Kasih

News

"Datang ke Rumah Saudara Dikira Pinjam Uang", Sofyan Tan Bagikan Luka Kemiskinan di Hadapan Penerima PIP