Kitakininews.co.id - Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut), Salmon Sumihar Sagala SE mengatakan, viralnya pengutipan parkir Rp20.000 di kawasan wisata Deleng Singkut, Berastagi, Kabupaten Karo, semakin merusak kepercayaan wisatawan untuk berkunjung ke daerah "Bumi Turang" tersebut.
"Atas dasar itu, kita mengingatkan Pemkab Karo dan seluruh pelaku usaha wisata agar tidak membiarkan persoalan-persoalan di lapangan berkembang menjadi citra buruk yang akhirnya membuat wisatawan berpikir ulang untuk datang ke Karo," ujar Salmon Sumihar Sagala kepada wartawan di Medan, Rabu (26/8/2026).
Hal ini disampaikan Salmon Sumihar menanggapi viralnya pengusaha warung di Deleng Singkut, Karo mengutip parkir Rp20.000 terhadap pengunjung.
Salmon menilai pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Tapi kenyamanan, keramahan, kepastian biaya serta rasa aman wisatawan juga menjadi faktor utama yang menentukan apakah seseorang akan kembali berkunjung atau justru memilih destinasi lain.
"Jangan sampai wisatawan datang ke Karo membawa uang untuk berwisata, tetapi pulang membawa cerita buruk tentang pungutan, ketidaknyamanan atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Kalau ini terus terjadi dan viral, dampaknya bisa panjang terhadap pariwisata kita," terang Salmon.
Menurut anggota dewan Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat ini, kasus Deleng Singkut seharusnya menjadi momentum bagi Pemkab Karo untuk melakukan reformasi total bagi dunia pariwisata, bukan sekadar menyelesaikan persoalan setelah sebuah video viral.
Sebab, keluhan maupun persoalan di sejumlah objek wisata Karo sebelumnya juga sempat menjadi perhatian masyarakat.
Politisi PDI Perjuangan ini juga menyebut kawasan menuju pemandian air panas Sidebuk-debuk, Deleng Singkut hingga kawasan wisata Siosar memiliki potensi besar untuk menjadi magnet wisatawan.
Namun, potensi itu bisa tidak maksimal apabila persoalan akses, pelayanan, parkir, pungutan maupun kenyamanan pengunjung tidak ditangani secara serius.
"Jika satu persoalan muncul, mungkin wisatawan masih bisa memaklumi. Tetapi kalau di beberapa tempat muncul keluhan yang hampir sama, lama-lama terbentuk persepsi bahwa berwisata ke Karo itu tidak nyaman. Ini yang harus kita cegah," tegasnya.
Berkaitan dengan itu, Salmon meminta Pemkab Karo bersama aparat terkait melakukan pemetaan terhadap seluruh objek wisata, termasuk persoalan parkir dan bentuk-bentuk pengutipan yang dibebankan kepada pengunjung.
Wisatawan harus mengetahui dengan jelas mana tarif resmi pemerintah dan mana pungutan yang dilakukan oleh pengelola atau pelaku usaha.
Ia juga mengingatkan para pelaku usaha agar tidak menjadikan lahan usaha sebagai alasan untuk melakukan pengutipan secara sepihak.
Jika terjadi persoalan antara pengunjung dan pengusaha, penyelesaiannya harus dilakukan melalui komunikasi yang baik, bukan dengan tindakan yang justru berpotensi viral dan mencoreng nama daerah.
"Pemkab harus hadir. Jangan menunggu viral baru bergerak. Pariwisata ini menyangkut banyak orang, mulai dari pelaku UMKM, hotel, restoran, pedagang, transportasi sampai masyarakat sekitar. Kalau wisatawan berkurang, yang paling dulu merasakan dampaknya masyarakat," tegasnya.
Salmon berharap pembenahan pariwisata Karo dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha dan masyarakat harus memiliki komitmen yang sama menciptakan kawasan wisata yang bersih, aman, nyaman, transparan dalam tarif serta ramah terhadap wisatawan.
"Jangan sampai keindahan alam Karo kalah oleh cerita buruk di pintu masuknya. Kita punya Sidebuk-debuk, Deleng Singkut, Siosar dan banyak destinasi lainnya. Potensinya luar biasa, tetapi harus dibarengi pelayanan yang luar biasa juga. Kalau tidak, wisatawan bisa memilih daerah lain," pungkas Salmon. (**)