Rangkayo Minang Indonesia Satukan Sejarah, Islam dan Kepemimpinan dalam Dua Seminar Internasional

Sukri Chaniago - Senin, 31 Agustus 2026 08:22 WIB
Sejumlah tokoh Rangkayo Minang Indonesia dalam rangkaian dua seminar internasional di Ruang Serbaguna M.H. Thamrin, Balai Kota DKI Jakartaz

Kitakininews.co.id -JAKARTA : Rangkayo Minang Indonesia menutup rangkaian dua seminar internasional di Jakarta dengan gagasan besar bahwa kebudayaan tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi harus menjadi sumber energi intelektual dan inspirasi untuk membentuk masa depan.

Di bawah kepemimpinan Ketua Rangkayo Minang Indonesia, Dr. Susilawati, dua forum yang digelar pada 26 dan 27 Agustus 2026 tersebut mempertemukan sejarah, Islam, kepemimpinan, kebudayaan dan gagasan kebangsaan dalam ruang dialog lintas generasi.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Ruang Serbaguna M.H. Thamrin, Balai Kota DKI Jakarta. Forum tersebut menghadirkan tokoh nasional, akademisi, pemuka agama, pejabat pemerintahan, unsur militer, budayawan hingga generasi muda.

Kehadiran berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa warisan Minangkabau tidak hanya dapat dibaca sebagai identitas etnis, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai sejarah Indonesia, peradaban Islam dan perkembangan dunia.

Forum pertama digelar pada Rabu, 26 Agustus 2026, melalui Seminar Internasional bertajuk "Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam di Nusantara" dengan tema "Memperingati 400 Tahun Warisan Syech Yusuf Al-Makassari".

Dr. (HC) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, yang dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Prof. Dr. Ismunandar, akademisi dan guru besar kimia asal Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Prancis, tampil dalam forum yang dimulai pukul 09.00 WIB.

Seminar tersebut juga menghadirkan Rektor Universitas YARSI Prof. Dr. Fasli Jalal, So. GK., Ph.D., Perwakilan Kementerian Agama Dr. K.H. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Perwakilan Kementerian Kebudayaan Endah Budi Heryani, S.S., M.M., serta Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P.

Perspektif akademik dan kebudayaan turut disampaikan Prof. H. Fauzi Bahar, M.Si., Prof. Yusuf Liu Baojun, Prof. Erwiza Erman, M.A., Ph.D., serta Dr. Roni Tabroni, M.A. Seminar tersebut dipandu oleh Dr. Jef. Rizal Sofyan Guedi, S.H., M.I.C. sebagai moderator.

Sehari kemudian, Kamis, 27 Agustus 2026, Rangkayo Minang Indonesia melanjutkan agenda melalui seminar bertajuk "Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia: Inspirasi Kepemimpinan Lintas Generasi melalui Tradisi Merantau, Dakwah, Kemandirian, Adaptasi, dan Jejaring Global".

Forum kedua memperluas pembahasan dari sejarah dan peradaban menuju nilai-nilai yang membuat tokoh-tokoh Minangkabau mampu melampaui batas daerah dan memberikan pengaruh terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P., menjadi salah satu figur sentral dalam forum tersebut. Kehadirannya membawa perspektif penting mengenai Sumatera Barat sebagai salah satu ruang utama tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau.

Nilai-nilai merantau, kemandirian, kemampuan beradaptasi, dakwah dan membangun jejaring, dinilai tetap memiliki relevansi kuat dalam kehidupan masyarakat modern dan dinamika nasional.

Forum tersebut juga menghadirkan Irman Gusman, S.E., M.B.A., H. Mahyeldi Ansharullah, S.P., Dr. Handa Satyanugraha Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., Dr. Elfa Hendri Mukhlis, M.A., Asnimar, S.Kar., M.Sn., serta Ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.Pd.

Sementara itu, Dr. Jur. Rizal Sofyan Gueci, S.H., M.I.C., bertindak sebagai moderator dalam seminar tersebut.

Ketua Rangkayo Minang Indonesia, Dr. Susilawati, mengatakan dua seminar tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai sumber gagasan bagi masa depan.

Menurutnya, perjalanan tokoh-tokoh Minangkabau menunjukkan bahwa keberanian merantau, kemandirian, tradisi intelektual, kemampuan berdakwah dan kecakapan membangun jejaring dapat menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan yang mampu melampaui ruang dan zaman.

"Seminar sebagai inspirasi kepemimpinan lintas generasi melalui tradisi merantau, dakwah, kemandirian, adaptasi, dan jejaring global," ujar Susilawati.

Bagi Rangkayo Minang Indonesia, tradisi merantau memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar meninggalkan kampung halaman. Merantau menjadi proses pembentukan karakter melalui pengalaman, keberanian menghadapi lingkungan baru, kemampuan beradaptasi serta membangun jejaring.

Tradisi tersebut juga mengajarkan pentingnya membawa pulang pengetahuan dan pengalaman untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nilai tersebut dinilai memiliki resonansi kuat di abad ke-21 ketika teknologi, mobilitas manusia, kompetisi global dan perubahan sosial bergerak semakin cepat.

Dalam situasi tersebut, warisan budaya dinilai akan tetap hidup apabila mampu diterjemahkan menjadi nilai yang relevan dan dapat membantu generasi baru menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar identitas.

Sejarah Indonesia juga mencatat banyak tokoh Minangkabau yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan bangsa.

Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus dan Hamka merupakan sejumlah tokoh yang memiliki kontribusi dalam bidang politik, pendidikan, agama, pers, sastra, diplomasi dan pemikiran kebangsaan Indonesia.

Melalui seminar tersebut, Rangkayo Minang Indonesia berupaya menggeser cara pandang terhadap warisan budaya dari sekadar objek nostalgia menjadi sumber inspirasi dan laboratorium gagasan bagi generasi masa kini.

Sejarah tidak hanya ditempatkan untuk mengenang tokoh yang pernah berjasa, tetapi juga untuk memahami nilai yang memungkinkan seseorang membangun pengaruh, mengambil risiko, beradaptasi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Ketua Bidang Publikasi dan Humas Rangkayo Minang Indonesia, Drs. Asri Hadi, M.A., menegaskan forum "Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia" tidak dimaksudkan sebagai perayaan terhadap masa lalu semata.

Menurutnya, pembicaraan mengenai tokoh-tokoh besar Minangkabau harus diarahkan untuk menemukan nilai yang dapat menginspirasi lahirnya generasi pemimpin baru.

"Yang ingin kita bicarakan bukan hanya siapa tokoh Minangkabau yang pernah mengubah Indonesia, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang membuat mereka besar dapat menginspirasi lahirnya tokoh-tokoh baru pada masa mendatang," kata Asri Hadi.

Dua seminar tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintahan, akademisi, tokoh agama, unsur militer, budayawan dan masyarakat sipil dalam membaca kembali nilai-nilai yang dapat memperkuat kepemimpinan Indonesia di tengah perubahan global.

Dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kari Minang turut memperkuat penyelenggaraan kedua forum tersebut.

Kolaborasi tersebut menempatkan pembicaraan mengenai Minangkabau dalam konteks yang lebih luas, mulai dari hubungan kebudayaan, sejarah, Islam, kepemimpinan, mobilitas global hingga pembentukan identitas kebangsaan.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

News

Hadirkan Pemerintah Lebih Dekat dengan Rakyat, Fraksi PAN DPRDSU Dorong Gubsu Berkantor di Daerah

News

Apresiasi Gubsu di Nias, Ihwan Ritonga: Berkantor di Daerah Jadi Contoh Kepemimpinan Yang Dekat dengan Rakyat

News

Kader Muda Gerindra Kritik Iskandar ST soal Walk Out Bobby di Paripurna DPRD Sumut

News

Destry Damayanti Resmi Pegang Kendali Bank Indonesia

News

Pemprovsu Siapkan Perda Larangan Penggunaan ‘Vape'

News

Mangapul Soroti Bobby Walkout di Paripurna