Cahaya di Ujung Penantian: Ketika Pendidikan Menjangkau Mereka yang Hampir Menyerah

M Harizal - Kamis, 10 September 2026 08:07 WIB
Ribuan orangtua dan mahasiswa KIP Kyliah bersama anggota DPRI RI Komisi X dari Fraksi PDI Perjyangan, dr Sofyan Tan. (Foto :Harizal)

Kitakininews.co.id -MEDAN : Harapan Ika Teresia Sembiring sempat berada di titik paling rapuh. Bertahun-tahun, warga Perdagangan, Kabupaten Simalungun, itu hanya bisa melihat putranya, Samuel, menjalani hari dengan bekerja menggunakan cangkul dan menjadi sales keliling.

Bukan karena Samuel tak memiliki keinginan untuk kuliah. Persoalannya adalah biaya.

Ika hanya seorang penjual sate. Penghasilannya lebih banyak terserap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga biaya pendidikan tinggi bagi sang anak terasa seperti mimpi yang sulit dijangkau.

Di Pematangsiantar, kisah serupa dialami keluarga Celsi Saragih.

Seorang ibu menahan isak ketika mengenang perjuangan suaminya yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan dengan memanjat pohon pinang demi mendapatkan penghasilan. Di tengah keterbatasan itu, Celsi justru tumbuh sebagai anak berprestasi. Ia bahkan pernah mendapat undangan ke Istana Merdeka.

Namun prestasi tidak serta-merta membuka pintu perguruan tinggi.

Keterbatasan biaya administrasi membuat Celsi harus mengubur sementara impiannya. Ia memilih bekerja di sebuah apotek karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk membiayai kuliah.

Bagi keluarga kurang mampu, pendidikan tinggi terkadang bukan semata tentang seberapa tinggi prestasi seorang anak, tetapi juga tentang apakah keluarganya mampu menyediakan biaya untuk membawanya sampai ke bangku kuliah.

Namun, suasana berbeda terasa di Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Medan.

Tangis haru dan rasa syukur pecah ketika para orang tua menceritakan perjalanan anak-anak mereka yang akhirnya mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi.

Kesempatan itu hadir melalui program pendidikan yang diperjuangkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) sekaligus Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

Satu per satu orang tua maju memberikan testimoni. Ada ibu yang berstatus janda dan bekerja sebagai petugas kebersihan gereja, istri pengemudi ojek online yang berjualan kue, hingga asisten rumah tangga yang bertahun-tahun bekerja untuk menghidupi keluarga.

Kisah mereka berbeda, tetapi ujung persoalannya sama: bagaimana keterbatasan ekonomi hampir membuat anak-anak mereka berhenti mengejar pendidikan tinggi.

"Kesempatan dan peluang tidak datang dua kali," ujar Ika Teresia dengan suara bergetar.

Ika menyadari bahwa kesempatan yang diperoleh anak-anak mereka bukan sesuatu yang datang setiap hari. Karena itu, ia meminta para mahasiswa tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

"Banyak orang di luar sana ingin kuliah, tetapi tidak dapat peluang. Buat kalian yang dapat, belajarlah yang betul. Jangan sia-siakan kesempatan ini," pesan salah satu orang tua mahasiswa yang anaknya lulus di Program Studi Agroteknologi saat memberikan testimoni di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas ST Bhinneka, Rabu, 9 September 2026.

Bagi para orang tua, kesempatan kuliah tersebut bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana. Ada harapan yang jauh lebih besar: memutus rantai keterbatasan ekonomi yang selama ini membayangi keluarga.

Anak yang sebelumnya harus membantu orang tua bekerja kini memiliki kesempatan duduk di ruang kuliah. Anak buruh tani, penjual sate, pekerja harian, hingga keluarga dengan penghasilan tidak tetap, mendapatkan ruang untuk menatap masa depan dengan harapan yang berbeda.

Di balik gedung kampus yang megah, tersimpan cerita tentang orang tua yang bertahun-tahun bekerja keras dan menahan keinginan demi kebutuhan anak. Kini, sebagian dari mereka melihat pintu perguruan tinggi yang sebelumnya terasa tertutup mulai terbuka.

dr. Sofyan Tan menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu.

Di hadapan para warga dan wali murid, Sofyan Tan menjelaskan alasan di balik kebijakan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, tetapi tetap dapat diakses anak-anak dari keluarga tidak mampu.

"Mungkin bapak dan ibu bertanya, kenapa memilih anak bapak ibu untuk sekolah dan berkuliah yang gratis? Bangun gedung yang mewah, tapi tidak usah bayar," ujar Sofyan Tan.

Perjuangan tersebut, kata Sofyan Tan, tidak terlepas dari pengalaman hidup yang pernah dilaluinya.

Ia berasal dari keluarga kurang mampu. Kedua orang tuanya tidak berpendidikan tinggi, sementara ayahnya bekerja sebagai tukang jahit.

"Hari ini saya bisa seperti ini karena lewat perjuangan yang sangat berat. Saya lahir dari keluarga yang miskin, kedua orang tua saya tidak berpendidikan, papa saya tukang jahit," ungkapnya.

Pengalaman hidup tersebut menjadi salah satu alasan Sofyan Tan terus mendorong terbukanya akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Menurutnya, fasilitas pendidikan yang baik harus dapat dirasakan manfaatnya oleh mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi. Pendidikan diharapkan menjadi jalan agar anak-anak memiliki kesempatan yang setara untuk membangun masa depan.

Sofyan Tan juga menegaskan bahwa program pendidikan yang dijalankannya merupakan bagian dari pengabdian dan perjuangan sosial.

Kepada para mahasiswa, ia menitipkan dua pesan agar kesempatan yang telah diberikan tidak berhenti hanya pada keberhasilan pribadi.

"Pesan saya hanya dua untuk membalas ini semua. Pertama, pastikan semua anak-anak yang kuliah rajin giat belajar. Kedua, jika menjadi orang sukses kelak bantulah orang miskin tanpa melihat latar belakang suku, agama dan rasnya seperti yang telah saya lakukan selama ini," pungkasnya.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

News

Tak Mau Miskin Selamanya, Rianto Antarkan Putrinya Menjemput Masa Depan di Bangku Kuliah

News

Buka PKKMB, Prof Stella Apresiasi Ambisi Global Universitas ST Bhinneka, Singgung Ada Kesamaan dengan Harvard

News

Sofyan Tan Ingin Univ. Satya Terra Bhinneka Jadi Rumah Bersama untuk Mengubah Masa Depan Lebih Baik

News

Tangis Ayah di Rumah Aspirasi Sofyan Tan, Data Desil Tinggi Ancam Mimpi Anak Kuliah

News

Anak Kepulauan Nias Jadi Lulusan Terbaik, Darni Gulo Buktikan KIP Kuliah Aspirasi Sofyan Tan Buka Jalan Masa Depan

News

Sofyan Tan: Cahaya Ada di Hati, Bukan di Mata