Kitakininews.co.id - Pemerintah Kota
New York membuka lebih dari 170 ribu halama
n dokume
n terkait kondisi udara da
n penangana
n kesehata
n setelah tragedi seranga
n11 September 2001 atau 9/11. Arsip yang selama bertahun-tahu
n tidak diketahui publik itu kembali memunculka
n pertanyaa
n besar mengenai apa yang sebenarnya diketahui pemerintah tentang bahaya udara di sekitar Ground Zero.
Dokumen tersebut dirilis Wali Kota New YorkZohran Mamdani pada Selasa (8/9/2026) waktu setempat, hanya beberapa hari menjelang peringatan 25 tahun tragedi 9/11.
Arsip itu mencakup laporan, memo internal, catatan kesehatan, hingga komunikasi antarlembaga pemerintah. Sejumlah dokumen menunjukkan adanya kekhawatiran mengenai kontaminasi berbahaya di kawasan Lower Manhattan setelah runtuhnya World Trade Center.
Salah satu dokumen yang menjadi sorotan adalah Harding Memo, dokumen internal Oktober 2001 yang membahas risiko paparan udara sekaligus potensi tanggung jawab hukum pemerintah kota. Arsip lainnya menunjukkan persoalan terkait asbes serta berbagai zat berbahaya yang masih ditemukan setelah serangan.
Mamdani menilai persoalan tersebut bukan sekadar kesalahan administratif. Ia menuding masyarakat telah mendapatkan informasi yang menyesatkan ketika pemerintah sebenarnya mengetahui adanya risiko kesehatan.
"Orang-orang jatuh sakit karena para pemimpin yang mereka percaya berbohong dan mengatakan bahwa udara beracun itu aman untuk dihirup," kata Mamdani dalam konferensi pers di City Hall.
Mamdani juga mengatakan pemerintahan kota sebelumnya berulang kali mengabaikan tuntutan keluarga korban, penyintas dan pekerja untuk membuka informasi mengenai kondisi lingkungan setelah serangan.
"Pemerintahan demi pemerintahan telah mengabaikan mereka yang menuntut jawaban dan kejelasan," ujarnya.
Komika sekaligus aktivis Jon Stewart, yang selama bertahun-tahun memperjuangkan layanan kesehatan bagi petugas dan penyintas 9/11, turut mendampingi Mamdani.
Stewart menggambarkan kondisi yang dirasakan warga Lower Manhattan setelah tragedi tersebut.
"Semua orang tahu. Dan sekarang sangat jelas bahwa pemerintah kota juga mengetahuinya," kata Stewart yang merupakan warga New York.
Menurut Stewart, pemerintah seharusnya mengambil langkah lebih cepat untuk mengurangi dampak paparan zat beracun.
"Racun ada di udara dan di tanah, di ambang jendela, di pendingin udara, menutupi hewan peliharaan dan pakaian Anda, dan racun itu bertahan selama berbulan-bulan," ujar sahabat Dave Chappelle itu.
Stewart juga mengingatkan bahwa para penyintas dan petugas yang kemudian mengalami sakit harus berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pengakuan serta bantuan.
"Mereka harus berjuang dalam keadaan sakit dan sekarat selama bertahun-tahun," kata peraih Mark Twain Prize 2022 itu.
Ia menambahkan, keterbukaan informasi mungkin tidak dapat mengubah seluruh dampak tragedi tersebut. Namun, setidaknya langkah itu dapat mengurangi perjuangan panjang para korban untuk mendapatkan pengakuan.
Pemerintah New York menemukan puluhan kotak berisi dokumen tersebut pada tahun lalu. Arsip kini dibuka melalui portal publik, sementara pemerintah berencana menambahkan dokumen lainnya secara bertahap.
Langkah tersebut diharapkan membantu para penyintas dan keluarga korban memahami paparan yang terjadi setelah serangan sekaligus memperkuat akses terhadap berbagai program kesehatan terkait 9/11.
Pembukaan 170 ribu halaman dokumen itu akhirnya kembali mengangkat salah satu pertanyaan paling menyakitkan dari tragedi 9/11: seberapa banyak sebenarnya pemerintah mengetahui bahaya udara beracun setelah serangan, dan mengapa informasi tersebut begitu lama tidak diketahui publik?
Sumber: ABC News, Democracy Now, New York Times