Kitakininews.co.id- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya sebagai program strategis daerah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.
Pengembangan kawasan tersebut dilakukan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Pemprovsu melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bekerjasama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) telah menyusun master plan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumut di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Kamis (17/9/2026).
"Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur dan tahun 2027 kita kembangkan di kepulauan Nias," ujarnya.
Jenny menjelaskan, penentuan lokasi kawasan unggulan didasarkan pada potensi dan produksi perikanan di masing-masing daerah. Berdasarkan data DKP Sumut, total produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 Ton. Sementara target produksi perikanan pada 2026 sebesar 383.036,91 Ton, dengan capaian hingga triwulan II 2026 sebesar 200.931,45 Ton.
Pada 2025, sejumlah daerah tercatat memiliki produksi perikanan yang tinggi, diantaranya Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan lokasi kawasan unggulan.
"Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir. Dan nelayan, kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan dan nanti dibantu hilirisasinya hingga pengolahan," terangnya.
Untuk wilayah pengelolaan perikanan 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias yang meliputi Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunung Sitoli. Sementara wilayah pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina).
Wilayah tersebut memiliki sejumlah potensi komoditas perikanan, antara lain Cakalang, Tongkol, Tenggiri, Tuna sirip kuning, Kembung, layang, Selar kuning, Tembang, Kuwe, dan Bawal.
Sementara itu, wilayah pengelolaan perikanan 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjung Balai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.
Komoditas yang menjadi potensi utama di wilayah tersebut antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.
Menurut Jenny, pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, dan memperkuat rantai usaha perikanan.
Dalam master plan tersebut juga disusun pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjung Balai. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.
"Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin," ucap Jenny.
Pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap juga terintegrasi dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara.
Sementara pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di Pantai Barat.
Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan Sumut memiliki potensi besar dalam pengembangan perikanan budidaya.
Menurutnya, salah satu komoditas unggulan yang banyak diminati adalah Udang Vaname yang hingga kini masih menjadi komoditas ekspor. Selain itu, Pemprovsu juga memberikan perhatian terhadap pengembangan rumput laut yang memiliki peluang pasar ekspor.
"Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor," tandas Riza. (**)