Kitakininews.co.id -MEDAN : Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menegaskan pentingnya fotografi sebagai bagian dari upaya menjaga keberagaman sekaligus merekam identitas kebudayaan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Sofyan Tan dalam acara Semarak Budaya bertema "Dalam Satu Bingkai Kebhinnekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia" yang digelar di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu, 23 September 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan bersama Komisi X DPR RI dan berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan tersebut diikuti fotografer serta jurnalis foto yang ada di Kota Medan.
Dalam pemaparannya, Sofyan Tan mengatakan Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan suku, bahasa dan tradisi yang sangat beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikannya, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa. Sementara Badan Bahasa mencatat terdapat hingga 729 bahasa daerah.
Keragaman tersebut, kata Sofyan, melahirkan kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pakaian adat, tradisi, kesenian hingga kuliner.
Ia kemudian menggambarkan kekayaan kuliner Indonesia yang menurutnya menjadi salah satu cermin keberagaman budaya Nusantara. Jika sejumlah negara dikenal melalui hidangan khas tertentu, Indonesia justru memiliki ragam makanan yang sangat luas, mulai dari nasi goreng hingga ratusan jenis soto yang tersebar di berbagai daerah.
Menurut Sofyan, kekayaan tradisi tersebut tidak cukup hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga perlu direkam secara nyata melalui dokumentasi visual.
"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah," ujar legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara 1 tersebut.
Sofyan Tan menjelaskan, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai rekam jejak sejarah. Menurutnya, fotografi juga memiliki tiga fungsi penting lainnya, yakni sebagai cermin pembentuk identitas, alat pendidikan dan diplomasi budaya, serta media kritik sosial.
Sebuah foto, lanjutnya, dapat menyampaikan pesan pendidikan moral dan nilai kebersamaan antarsuku tanpa harus menggunakan banyak kata. Di sisi lain, bidikan fotografer terhadap peristiwa bencana maupun persoalan keadilan sosial juga dapat menjadi bentuk kritik konstruktif terhadap kondisi masyarakat.
"Fotografi memiliki kekuatan untuk berbicara melalui sebuah momen. Apa yang terekam dalam satu bingkai dapat menjadi catatan bagi generasi berikutnya," ujarnya.
Namun, Sofyan Tan turut menyoroti tantangan dunia fotografi di tengah perkembangan teknologi modern, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 83 persen fotografer saat ini telah memanfaatkan bantuan AI dalam menghasilkan karya. Perkembangan tersebut, menurutnya, tidak hanya berdampak pada dunia fotografi, tetapi juga merambah berbagai profesi lain, termasuk dokter dan akademisi, yang menghadapi persoalan etika hingga potensi plagiarisme.
Meski teknologi berkembang semakin cepat, Sofyan Tan mengingatkan para pelaku fotografi agar tidak kehilangan keaslian dan sentuhan manusia dalam setiap karya.
Ia mendorong fotografer untuk terus melahirkan inovasi, namun tetap mempertahankan sisi kemanusiaan yang menjadi kekuatan utama sebuah karya fotografi.
"Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh perasaannya mengalir ke sana. Walaupun bidikan foto hanya berlangsung satu detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan mempengaruhi kebijakan satu negara," pungkasnya.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua PFI Medan Risky Cahyadi, narasumber fotografer senior Dr. Irsan Mulyadi, M.I.Kom., Tenaga Ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting dan Padapotan Tamba.