Kitakininews.co.id - Langkah Operasi Pasar (OP) yang digelar untuk menekan harga daging Ayam hanyalah solusi instan yang bersifat sementara dan dinilai tidak mampu menyentuh dan menyelesaikan akar permasalahan yang sebenarnya.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut), Rudi Alfahri Rangkuti SH MH kepada wartawan melalui telepon dari Kota Binjai, Kamis (24/9/2026).
Dibalik meroketnya harga Ayam yang sempat menembus angka hingga Rp58.000 per Kilogram, Rudi Alfahri juga menyoroti sejumlah pemicu mendasar.
Selain persoalan jalur distribusi yang panjang melibatkan peternak, produsen, pengepul, agen hingga pedagang, kenaikan harga ini juga dipicu oleh ketidakstabilan pasokan di pasaran.
Rudi menjelaskan, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan operasi pasar sebagai jurus ampuh. Salah satu upaya strategis jangka panjang yang wajib dilakukan adalah memberdayakan dan menggairahkan kembali para peternak ayam, baik yang mandiri maupun yang tergabung dalam asosiasi atau kelompok masyarakat, agar terus meningkatkan produksi telur maupun ayam demi mencukupi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
Bantuan 500 Bibit Ayam di P-APBD 2026 Dinilai Sangat Tidak Memadai
Dalam pandangannya, perhatian pemerintah terhadap para peternak lokal saat ini masih sangat minim dan jauh dari kata cukup.
Tak hanya itu, Rudi juga menyinggung alokasi bantuan sebanyak 500 bibit berupa anak ayam yang ditampung dalam Perubahan APBD (P-APBD) 2026 kepada kelompok peternak ayam di Sumatera.
"Jumlah ini tidaklah memadai dibanding besarnya kelompok petani, baik yang mandiri maupun yang tergabung di asosiasi," tegas politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Dorong Kredit Modal, Pakan, dan Obat-obatan untuk Peternak
Oleh karena itu, Rudi mendorong Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu) melalui dinas terkait termasuk Dinas Pertanian dan Peternakan untuk meningkatkan bantuan berupa kredit modal usaha, bantuan obat-obatan, pakan ayam, dan lain-lain.
Dengan dukungan yang konkrit ini, para peternak akan semakin bergairah dan termotivasi untuk meningkatkan produksi telur dan ayam secara maksimal.
Kalau tidak dilakukan secara maksimal dan menyeluruh, Rudi khawatir kenaikan harga ayam akan terus terjadi bahkan tidak terkendali, apalagi di tengah dugaan adanya pihak-pihak termasuk spekulan yang mempermainkan harga di pasaran.
"Intinya, kita apresiasi operasi pasar, namun persoalan mendasarnya harus diupayakan secara lebih maksimal," pungkasnya. (**)