Kitakininews.co.id -MEDAN : Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menegaskan kecerdasan intelektual bukan satu-satunya modal untuk menjadi pemimpin bangsa. Menurutnya, generasi muda juga membutuhkan kepekaan hati dan empati agar mampu memahami serta merasakan kondisi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Sofyan Tan dalam kegiatan bertajuk "Barongsai, Melestarikan Tradisi Mengukir Prestasi" yang digelar melalui kolaborasi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama Komisi X DPR RI di Lobby Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Kota Medan, Kamis, 24 September 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Rektor, Wakil Rektor, serta civitas akademika Universitas ST Bhinneka. Turut hadir Coach Vicktor dan David Candra dari Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Sumatera Utara, serta atlet barongsai dari lima sekolah, yakni SMA Sultan Iskandar Muda, SMA Budi Utomo, SMA Bodhicitta, SMA Cinta Budaya, dan SMA Mian Zhong.
Dalam kesempatan itu, Sofyan Tan mengulas perjalanan panjang barongsai yang disebut bermula dari Dinasti Ming di Tiongkok sebelum berkembang ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Ia menjelaskan, barongsai bukan sekadar pertunjukan seni yang mengandalkan gerakan atraktif. Di dalamnya terdapat unsur olahraga dan bela diri yang memadukan ketangkasan wushu dengan gerak tari. Setiap pemain dituntut memiliki kekuatan fisik, keseimbangan, ketangkasan serta kemampuan bekerja sama.
"Tarian barongsai membutuhkan kekuatan fisik dan kekompakan tingkat tinggi. Umumnya para pemainnya adalah atlet wushu yang memiliki otot kaki sangat kuat untuk menopang beban rekan-rekannya," ujar legislator dari Dapil Sumut 1 tersebut.
Menurut Sofyan Tan, kekuatan utama dalam pertunjukan barongsai tidak hanya terletak pada kemampuan individu. Kekompakan dan kepercayaan antarpemain menjadi bagian penting agar setiap gerakan dapat dilakukan secara tepat dan aman, terutama ketika memainkan atraksi dengan tingkat kesulitan tinggi.
Ia kemudian mengaitkan permainan barongsai dengan nilai kesetaraan. Pemain yang berada di bagian depan maupun belakang memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama menentukan keberhasilan sebuah pertunjukan.
Sofyan Tan mengatakan tidak ada pemain yang dapat mengklaim dirinya paling hebat karena setiap posisi memiliki peran masing-masing. Bahkan, pemain di belakang harus mampu membaca dan merasakan gerakan rekannya di depan tanpa selalu melihat secara langsung.
"Ini membuktikan bahwa bermain barongsai melatih kepekaan hati dan empati untuk memahami orang lain," ungkapnya.
Dari filosofi tersebut, Sofyan Tan kemudian menyampaikan pesan kepada generasi muda mengenai pentingnya membangun karakter sebagai bekal menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi belum tentu otomatis mampu menjadi pemimpin yang baik apabila tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat.
"Orang pintar saja tidak akan otomatis sukses atau bisa menjadi pemimpin hebat. Namun, orang pintar yang memiliki kepekaan rasa, punya empati, dan sanggup merasakan penderitaan orang lain, itulah sosok yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, lima kelompok barongsai dari lima sekolah juga menampilkan atraksi di hadapan para peserta dan tamu undangan. Para atlet memperlihatkan gerakan lincah dengan melompat dan meliuk-liuk, sekaligus menunjukkan kekompakan dalam setiap rangkaian atraksi.
Pertunjukan semakin menarik ketika barongsai berinteraksi dengan penonton. Para atlet membawa barongsai menaiki anak tangga dan bergerak melewati kerumunan peserta. Sejumlah pengunjung terlihat mengabadikan atraksi tersebut menggunakan telepon seluler dan berfoto dari jarak dekat.
Beberapa peserta bahkan tampak gugup ketika barongsai mendekati mereka, menciptakan suasana meriah di tengah kegiatan pelestarian budaya tersebut.
Sofyan Tan menyampaikan apresiasi kepada Kemenpora RI, FOBI Sumut, pihak perguruan tinggi, para pelatih, serta seluruh siswa dari lima sekolah yang berpartisipasi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menjaga tradisi budaya sekaligus mengembangkan potensi olahraga dan prestasi.