Kitakininews.co.id - Hutan bakau atau mangrove di pesisir Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kini kembali hijau dan kokoh. Siapa sangka, di balik keindahan ekosistem pesisir yang kini menjelma menjadi destinasi wisata edukasi ini, tersimpan kisah transformasi dramatis dari warga lokal yang dulunya merupakan perusak alam.
Beberapa tahun lalu, kawasan pesisir ini berada di ambang kerusakan parah. Desakan ekonomi membuat sebagian besar nelayan beralih profesi menjadi pembalak mangrove untuk dijadikan arang. Tanpa disadari, tindakan tersebut meruntuhkan benteng alami pesisir, membuat air mengeruh, dan drastis mengurangi hasil tangkapan ikan.
Bahkan, demi bertahan hidup, para nelayan sempat nekat mencari ikan hingga ke area Single Point Mooring (SPM) milik Pertamina EP Pangkalan Susu—sebuah tindakan berisiko tinggi yang tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi memicu hot spot dari aktivitas dapur arang di dekat wilayah operasional migas.
Kondisi kritis tersebut menggugah hati Kasto Wahyudi, seorang mantan pembalak mangrove yang akrab disapa Yudi. Ia menyadari bahwa eksploitasi berlebihan ini hanya akan membawa kehancuran jangka panjang bagi desanya.
Dengan tekad bulat, Yudi mulai menanam kembali bibit mangrove secara mandiri dan mengajak rekan-rekan nelayannya untuk berhenti merusak alam. Ia kemudian mendirikan Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama.
Meski sempat menghadapi gesekan sosial dengan warga yang masih bergantung pada bisnis arang, langkah perbaikan ini perlahan menemukan jalannya.
Perjuangan Yudi dan kelompoknya mendapatkan angin segar ketika bersinergi dengan Pertamina EP Pangkalan Susu serta KPH Wilayah 1 Stabat sejak tahun 2022. Melalui pemetaan sosial dan intervensi program yang komprehensif, lahirlah inisiatif strategis: Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa.
Melalui pendampingan berkelanjutan yang dimulai sejak 2023, wajah Desa Pasar Rawa berubah total. Tidak ada lagi aktivitas pembalakan liar, dapur arang, maupun nelayan yang mencari ikan di sekitar area terlarang SPM.
Kini, masyarakat setempat beralih peran menjadi pengelola pariwisata profesional. Dengan fasilitas pendukung seperti jalur susur mangrove, homestay, hingga saung peristirahatan, desa ini sukses menerapkan konsep one-stop service tourism.
Tidak hanya berfokus pada sektor pariwisata, KTH Maju Bersama juga menggerakkan roda ekonomi kreatif melalui pemberdayaan kaum perempuan. Hasil tangkapan ikan diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti Baronang Crispy, serta dimanfaatkan untuk Program Makanan Tambahan (PMT) guna mencegah stunting pada balita.
Selain itu, penerapan sistem silvofishery (tambak terhubung mangrove) turut mendongkrak produktivitas tambak. Sampah organik di wilayah tersebut diolah secara mandiri menjadi pakan ikan, menciptakan siklus ekosistem yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Manager Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengapresiasi keberhasilan kolaborasi ini. Menurutnya, pemulihan ekosistem laut terbukti membuka jalan menuju kesejahteraan masyarakat akar rumput sekaligus mendukung kelancaran operasional perusahaan.
"Ketika ekosistem laut pulih, jalan menuju kesejahteraan akan terbuka dengan sendirinya. Kami berharap eduekowisata ini bisa menjadi contoh sukses harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi," ungkap Iwan.
Berkat konsistensi dan dampak luas yang dihasilkan, program Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa sukses memborong berbagai penghargaan bergengsi pada tahun 2026.
Di antaranya penghargaan Gold CID Upstream Award 2026, Silver untuk kategori Best CID for Social License to Operate (SLO), predikat Platinum Award kategori Economic Empowerment di ajang ISRA 2026, serta predikat Gold dalam Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2026.
Kini, pesan "Menjaga Mangrove Sama Artinya Menjaga Rumah Kita" telah mendarah daging di hati warga Pasar Rawa, menjadikan desa pesisir ini sebagai mercusuar keberhasilan pelestarian lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat di Sumatra Utara.