Kitakininews.co.id - Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada kuartal keempat memicu penurunan produksi tanaman karet.
Kendati persediaan di pasaran menyusut, pergerakan harga komoditas ini dinilai lebih banyak disetir oleh dinamika geopolitik global ketimbang faktor fundamental pasokan.
Ekonom asal Sumut, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa penurunan produksi karet secara kuartalan di wilayah Sumut kembali berulang pada triwulan IV-2026. Pola serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada periode yang sama di tahun 2025.
"Dari hasil observasi lapangan pada triwulan IV-2025 lalu, tren produksi karet di Sumut mengalami penurunan. Pada salah satu sampel, penurunan produksinya bahkan mencapai 17 persen. Memasuki kuartal keempat tahun 2026 ini, pola penurunan produksi secara kuartalan tersebut diproyeksikan bakal berulang," ujar Gunawan di Medan, Selasa (27/10/2026).
Meski pasokan dari tingkat petani berkurang, Gunawan menilai kondisi tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan harga karet secara keseluruhan.
Saat ini, harga karet internasional sangat bergantung pada eskalasi konflik geopolitik yang memengaruhi permintaan dunia.
Menurutnya, harga karet dunia masih bertahan kuat di kisaran USD 2,57 per kilogram dengan kecenderungan menguat, seiring dengan lonjakan harga minyak mentah global.
Sebelumnya, harga karet sempat terkoreksi saat harga minyak mentah melandai di bawah level USD 100 per barel.
"Belakangan ini harga karet kembali pulih dan berpeluang melanjutkan tren positif sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang berada di kisaran USD 117 per barel," tuturnya.
Meski menunjukkan tren pemulihan, harga karet saat ini belum sepenuhnya kembali ke level tertinggi USD 2,66 per kilogram seperti yang tercapai pada 13 Oktober lalu.
Gunawan menegaskan bahwa motor penggerak utama kenaikan harga saat ini didominasi faktor eksternal.
Tekanan harga pada awal Oktober lalu, lanjutnya, sempat dipicu oleh potensi meredanya konflik di Timur Tengah.
Namun, pasar kembali mencermati potensi eskalasi baru menyusul pertimbangan Amerika Serikat terkait aksi militer terhadap Iran pada awal November mendatang.
"Jika eskalasi konflik memanas, kenaikan permintaan serta harga karet yang searah dengan minyak mentah dunia berpotensi terjadi dalam jangka pendek. Saya melihat harga karet masih berada dalam tren naik, setidaknya hingga penutupan tahun 2026," pungkas Gunawan.