Kitakininews.co.id -Di tengah hiruk-pikukdinamika ketatanegaraan dan menguatnya polarisasi opini publik belakangan ini,ada satu hal mendasar yang semestinya tidak boleh terlupakan, bahwa di atassegala perbedaan pandangan, kepentingan politik, dan pertarungan argumentasi,terdapat kepentingan yang jauh lebih besar. Yakni keselamatan bangsa, kedamaianmasyarakat, dan keutuhan persaudaraan antar sesama anak bangsa.
Seorang tokohmasyarakat, H Albiner Sitompul dari Tapiannauli, Tukka, Tapanuli Tengah (Tapteng)ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk sejenak menarik napas, menenangkanpikiran, dan kembali merenungkan hakikat tertinggi dari kehidupan bernegara.Bernegara bukan semata-mata tentang siapa yang menang dalam perdebatan, siapayang paling kuat dalam mempertahankan pendapat, atau siapa yang berhasilmemenangkan kepentingan kelompoknya.
Lebih dari itukatanya, bernegara adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan keadilan,ketenteraman, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyatIndonesia. Konstitusi, lembaga peradilan, dan berbagai mekanisme hukummerupakan instrumen penting dalam menjaga kehidupan demokrasi danketatanegaraan.
Namun, hukumformal tidak seharusnya hanya dipandang sebagai arena untuk saling berhadapandan mempertahankan ego masing-masing. Hukum semestinya menjadi jalan untukmenemukan keadilan, menghadirkan kepastian, sekaligus membuka ruangrekonsiliasi.
Dalam tradisipemikiran hukum dikenal sebuah adagium Latin, Salus Populi Suprema Lex Esto,yang berarti keselamatan dan kesejahteraan rakyat hendaknya menjadi hukum yangtertinggi. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa segala keputusan dan kebijakankenegaraan pada akhirnya harus bermuara pada kepentingan rakyat, bukansemata-mata pada kemenangan politik ataupun kepentingan kelompok tertentu.
Lantas,bagaimana jika berbagai jalan penyelesaian yang tersedia seolah menemuikebuntuan? Bagaimana jika perbedaan pandangan semakin melebar, sementara ruangdialog semakin menyempit?
Dalamketerbatasan sebagai warga negara, saya percaya masih ada satu ikhtiar yangtidak boleh ditinggalkan, yaitu mengetuk pintu langit melalui doa dan memohonpetunjuk Tuhan Yang Maha Esa.
"Ada sebuahharapan sederhana yang ingin saya titipkan kepada bangsa ini. Semoga Tuhanmembukakan jalan keluar melalui imajinasi, kejernihan hati, dan kebijaksanaanyang dituntun oleh-Nya, sehingga umat-Nya dapat kembali berdamai dan bangsa initerhindar dari perpecahan," ungkap Albiner Sitompul.
Lanjut Albiner,doa tersebut bukan berarti menyerahkan seluruh persoalan kepada keadaan tanpamelakukan usaha. Sebaliknya, doa merupakan ikhtiar batin yang harus berjalanberiringan dengan ikhtiar rasional, dialog kebangsaan, penghormatan terhadapkonstitusi, serta keberanian mengambil keputusan yang bijaksana.
"Kita berharappara pemimpin negara, para hakim, para wakil rakyat di parlemen, serta seluruhpemangku kepentingan dianugerahi kejernihan hati, keluasan pandangan, dan dayacipta yang luhur. Sebuah imajinasi kenegarawanan yang tidak hanya terpaku padakebuntuan prosedural, tetapi mampu menemukan jalan keluar yang bermartabat,konstitusional, adil, dan mendamaikan," jelasnya.
Sebab katanya,terkadang bangsa tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk membaca persoalan,tetapi juga kebijaksanaan untuk menemukan jalan keluar. Tidak hanya membutuhkankeberanian untuk mempertahankan prinsip, tetapi juga kelapangan hati untukmembangun titik temu.
Terobosan hukumdan politik yang lahir dari kebijaksanaan sebut Albiner, bukan dari ambisi atautekanan kepentingan, akan menjadi modal penting dalam menjaga stabilitasnasional. Jangan sampai kegaduhan yang seharusnya dapat diselesaikan melaluidialog dan kebijaksanaan justru menguras energi bangsa, mengganggu kehidupanmasyarakat, serta menjauhkan kita dari agenda besar pembangunan dankesejahteraan rakyat.
"Pada akhirnya,rakyat di akar rumput tidak menginginkan bangsa ini terus-menerus terjebakdalam pertentangan. Rakyat membutuhkan kehidupan yang aman, pekerjaan yanglayak, pendidikan yang berkualitas, pelayanan publik yang baik, serta kepastianbahwa masa depan anak-anak mereka berada dalam keadaan yang lebih baik,"katanya.
Karena ituajaknya, mari sudahi segala kegaduhan yang tidak produktif. Mengembalikanenergi bangsa untuk merajut persatuan, memperkuat persaudaraan, dan membangunkesejahteraan bersama.
"Kita bolehberbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Kita boleh berbedapilihan, tetapi jangan mengorbankan persatuan. Dan kita boleh berselisih dalammencari kebenaran, tetapi jangan pernah kehilangan kerendahan hati di hadapanTuhan Yang Maha Esa," tambahnya.
Sebab padaakhirnya, kebesaran sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan konstitusidan kemajuan pembangunannya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga perdamaiandi tengah perbedaan.
"Mari mengetukpintu langit, sembari terus berikhtiar di bumi, demi kedamaian dan keselamatanbangsa Indonesia," pungkas Albiner Sitompul.