Kitakini.news - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusatmenginginkan peran media khususnya lembaga penyiaran televisi dan radio menjadipenyampai informasi yang baik dan benar selama tahapan Pemilu 2024.
Ini berarti media penyiaran dituntut menjadi katalisatorberita yang benar dan menyejukkan di masyarakat selama pesta demokrasiberlangsung.
"Menjelang Pemilu 2024 tentunya harapan besar kami bagiteman-teman media khususnya televisi dan radio, teman-teman ini menjadikatalisator pesan baik dan penjernih informasi. Menjelang Pemilu 2024 sayabilang katalisator tentunya teman-teman ini menjadi penyampai pesan kepadamasyarakat berkaitan dengan tahapan Pemilu pemilu yang jujur adil seperti apa,”ujar Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah saat membuka kegiatan presscamp di Hotel Niagara, Parapat, Rabu (15/3/2023).
Dikatakannya demokrasi yang berkualitas itu memberikanpesan-pesan yang terus disampaikan dalam muatan-muatan program siaran yangdimiliki media penyiaran.
Nuning menyebutkan pengalaman Pemilu 2019, banyaknyainformasi hoaks yang beredar di masyarakat menjadi tantangan bagi mediapenyiaran dan konvensional pada pemilu 2024. Terutama saat pemilihan presidendan legislatif pada April, ditemukan banyaknya informasi atau konten siaran danberita yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
“Maka, peran media penyiaran dan konvensional yang telahmelalui tahapan koreksi dan penyuntingan bisa menjadi penyampai informasi yangbenar,” sebut Nuning.
Informasi hoaks yang beredar, menurut Nuning sering ada dimedia sosial yang juga mendominasi pada pemilu 2019. Namun, media sosial jugabisa dimanfaatkan lembaga penyiaran dan media konvensional sebagai bentenginformasi hoaks.
“Dengan begitu, lembaga penyiaran yang terverifikasi dewanpers juga bisa menguatkan eksistensi dan konten siaran kepada masyarakat yangaktif menggunakan media sosial sebagai sumber informasi,” ungkap Nuning.
Dirinya meyakini kalau TV swasta, nasional dan lainsebagainya juga punya media sosial karena yang kemudian menggunakan streamingmemakai internet menggunakan media sosial dan itu justru akan lebih mudahmempengaruhi publik.
Selain sebagai media katalisator, secara khusus Nuning jugaberharap kepada lembaga penyelenggara pemilu dalam hal ini KPU serta Bawaslumenggandeng lembaga penyiaran dan media konvensional sebagai media sosialisasidalam bentuk iklan kampanye, iklan layanan masyarakat, serta debat kandidat.
Kegiatan press camp yang berlangsung selama15 - 17 Maret diisi dengan sejumlah kegiatan. Diawali dengan visitasi ke Radiolokal Kharisma Swara FM di Balige.
Kemudian berbagai kegiatan seminar antara lain 'Regulasipengawasan penyiaran pemilu 2024: KPI Outlook 2019-2024 yangmenghadirkan pembicara Mimah Susanti (Komisioner KPI Pusat bidang isi siaran),Menjaga keterimbangan konten siaran dalam penyiaran pemilu 2024 oleh Evri RizqiMonarshi (praktisi penyiaran), Urgensi Digitali Security untukketahanan media massa menghadapi disrupsi digital oleh Agus Sudibyo (pemerhatimedia).
Mengusung tema "Pers bebas bermartabat wujudkandemokratisasi penyiaran jelang Pemilu 2024" sejumlah perwakilan mediaelektronik, massa, dan online menjadi peserta.
Kemudian pada hari kedua dilanjutkan kegiatan visitasi PIKGT di Samosir, dan seminar tentang 'Integritas Jurnalis dalam mengawal masakampanye dan pemilu 2024 oleh Ninik Rahayu (Ketua Dewan Pers).
Kontributor: Azzareen