Kitakini.news - Panggung megah Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, akanmenjadi saksi penentuan raja baru Afrika. Tuan rumah
Maroko bersiap menghadapi
Senegal pada final Africa Cup of Nations (ACON) 2025, Senin (19/1/2026) dini hari WIB atau Minggu malam waktu setempat, dalam duel sarat gengsi, sejarah, dan ambisi besar.
Bagi Maroko, ini adalah kesempatan emas mengakhiri penantianpanjang gelar Piala Afrika yang terakhir kali mereka raih pada 1976. Bermain didepan publik sendiri, Atlas Lions mengusung mimpi besar untuk mengangkat trofidi rumah sendiri. Di sisi lain, Senegal datang dengan status juara AFCON 2021,membawa pengalaman dan mental juara yang telah teruji di laga-laga krusial.
Menariknya, meski kedua negara kerap bertemu di berbagaiturnamen Afrika, final ACON 2025 menjadi pertemuan pertama Maroko dan Senegaldi partai puncak. Secara rekor pertemuan, Maroko unggul dengan 18 kemenangan,sementara Senegal mengoleksi tujuh kemenangan, dan enam laga lainnya berakhirimbang.
Langkah Stabil Maroko Menuju Final
Sebagai tuan rumah sekaligus unggulan, Maroko menunjukkanperforma nyaris sempurna sepanjang turnamen. Tim asuhan Walid Regragui tampilsolid, disiplin, dan sangat kuat di lini belakang. Hingga mencapai final,Maroko hanya kebobolan satu gol dari enam pertandingan, menjadikannya catatandefensif terbaik di turnamen ini.
Perjalanan Maroko menuju final memang tidak selalu mudah,tetapi terlihat matang dan terkontrol. Mereka lolos dari fase grup tanpakekalahan, lalu melewati fase gugur dengan penguasaan permainan yang rapi.Puncaknya terjadi di semifinal saat menghadapi Nigeria. Laga berlangsung ketatdan berakhir imbang 0–0 hingga perpanjangan waktu, sebelum Maroko memastikantiket final lewat kemenangan adu penalti 4–2. Penjaga gawang Yassine Bounoutampil sebagai pahlawan dengan dua penyelamatan krusial.
Keberhasilan tersebut mengantar Maroko ke final AFCONpertama sejak 2004 dan membuka peluang besar untuk mencatat sejarah baru dihadapan pendukung sendiri.
Senegal: Jalan Lebih Terjal, Mental Lebih Teruji
Berbeda dengan Maroko yang relatif mulus, perjalanan Senegalmenuju final diwarnai laga-laga ketat dan penuh tekanan. Namun justru disitulah karakter juara mereka terlihat.
Pada semifinal, Senegal harus menghadapi Mesir, tim dengantradisi kuat di Piala Afrika. Pertandingan berlangsung keras dan seimbanghingga akhirnya Sadio Mané muncul sebagai pembeda lewat gol penentu pada menitke-78, memastikan kemenangan 1–0 bagi Lions of Teranga.
Mané menyebut kedisiplinan dan kesabaran sebagai kunci utamaSenegal melaju ke final. Sepanjang turnamen, Senegal konsisten mencetak gol dantetap tajam di lini depan, meski tidak selalu dominan dalam penguasaanpermainan. Final ini menjadi partai puncak AFCON keempat bagi Senegal di eramodern, menegaskan status mereka sebagai salah satu kekuatan utama sepak bolaAfrika.
Siapa yang lebih mulus langkahnya?
Jika dilihat dari statistik dan jalur menuju final, Marokosedikit lebih unggul dari sisi konsistensi dan stabilitas, terutama di sektorpertahanan. Dukungan penuh publik tuan rumah juga menjadi keuntungan besar yangsulit diabaikan.
Namun Senegal memiliki keunggulan berbeda, yakni pengalaman,mental juara, serta kemampuan menghadirkan pemain penentu di momen-momenkrusial. Tim ini terbiasa bermain di bawah tekanan dan tahu bagaimanamemenangkan pertandingan besar secara efisien.
Final ini diprediksi berjalan ketat, mempertemukanpertahanan kokoh Maroko melawan serangan klinis Senegal. Detail kecil — satukesalahan, satu momen magis pemain bintang, atau bahkan adu penalti — bisamenentukan siapa yang akan mengangkat trofi.
Segalanya Dipertaruhkan
Lebih dari sekadar gelar, kemenangan di final ACON 2025membawa makna besar bagi kedua negara. Maroko berpeluang menjadi juara tuanrumah pertama dalam hampir dua dekade, sementara Senegal mengincar gelar keduaberuntun untuk menegaskan dominasi mereka di Afrika.
Ketika peluit pertama dibunyikan, Rabat tak hanya menjadituan rumah sebuah pertandingan, tetapi juga saksi duel dua kekuatan terbaikAfrika, antara mimpi yang ingin diwujudkan dan kejayaan yang ingindipertahankan.
Sumber: Reuters, The Guardian, CAF Online, Antara News, EnHespress