Kitakini.news - Wembley kembali menjadi saksi supremasi Manchester City. Kemenangan 2-0 atas Arsenal di final Carabao Cup musim 2025/2026, Minggu (22/3/2026) malam WIB bukan sekadar soal mengangkat trofi, tetapi pernyataan bahwa dominasi mereka di Inggris masih jauh dari kata selesai.
Dengan hasil ini, City kini mengoleksi 9 gelar Carabao Cup atau Piala Liga Inggris, mendekat ke rekor milik Liverpool yang masih menjadi pengoleksi terbanyak dalam sejarah kompetisi dengan 10 trofi.
Lebih impresif lagi, dalam satu dekade terakhir, City sempat mencatatkan prestasi menakjubkan dengan menjadi juara Carabao Cup empat tahun berturut-turut antara 2017/2018 hingga 2020/2021, membuktikan konsistensi luar biasa mereka di turnamen ini.
Guardiola dan Standar Kemenangan Tanpa Henti
Di balik konsistensi luar biasa ini, sosok Pep Guardiola kembali menjadi pusat cerita. Trofi ini menjadi yang kelima baginya di ajang Carabao Cup, menjadikannya pelatih paling sukses dalam sejarah turnamen tersebut.
Namun, bagi Guardiola, kemenangan bukan sekadar angka di lemari trofi. Ia menekankan kesiapan tim dalam memanfaatkan momen krusial.
"Kami tahu momen itu akan datang, dan ketika kesempatan muncul, kami harus siap mengambilnya," ujar Guardiola usai laga.
"Bisa bersaing di banyak kompetisi dan tetap memenangkan final seperti ini menunjukkan karakter dan kualitas luar biasa dari para pemain."
Final yang Ditentukan dalam Sekejap
Pertandingan sempat berjalan seimbang sebelum City menunjukkan sisi mematikan mereka. Dua gol cepat di babak kedua mengubah arah laga secara drastis. Dalam hitungan menit, Arsenal yang semula kompetitif mendadak kehilangan pegangan. City, seperti biasa, tidak menyia-nyiakan momentum—mereka mengunci pertandingan dengan kontrol dan ketenangan khas tim juara.
Dominasi yang Terus Hidup
Kesuksesan ini menegaskan satu hal: Manchester City bukan hanya tim hebat, tetapi mesin kemenangan yang terus berevolusi. Dengan kombinasi pengalaman, kedalaman skuad, dan sentuhan taktik Guardiola, City terus menjaga standar tinggi—bahkan ketika tekanan datang dari berbagai arah.
Sumber: Reuters, The Guardian , EFL / Wikipedia, TalkSPORT