Kitakini.news -
Arsenal memastikan tempat di semifinal
Liga Champions 2025/2026, namun dengan cara yang jauh dari meyakinkan. Bermain imbang 0-0 melawan
Sporting CP di Emirates Stadium, Kamis (16/4/2026) dini hari WIB, The Gunners lolos hanya berbekal keunggulan tipis 1-0 dari leg pertama.
Alih-alih tampil dominan, Arsenal justru berada di bawah tekanan hampir sepanjang pertandingan. Mereka kesulitan menciptakan peluang bersih, sementara Sporting tampil lebih berani dan agresif dalam membongkar pertahanan tuan rumah. Peluang terbaik bahkan datang dari kubu tamu.
Sepakan Geny Catamo di babak pertama sempat membentur tiang, momen yang nyaris mengubah jalannya laga dan menggagalkan langkah Arsenal.
Meski tampil kurang menggigit, lini belakang Arsenal menjadi penyelamat. Disiplin dan ketenangan dalam bertahan memastikan gawang tetap aman hingga peluit akhir, cukup untuk mengunci tiket semifinal.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengakui timnya tidak menjalani laga mudah, namun tetap menilai kelolosan ini layak didapatkan.
"Ini pertandingan yang sangat sulit dalam dua leg. Tapi kami pantas lolos," ujar Arteta.
Ia juga menyoroti pentingnya pencapaian ini bagi klub.
"Kami melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah klub ini. Itu menunjukkan betapa sulitnya pencapaian ini," tambahnya.
Arteta menegaskan bahwa ketenangan di fase akhir menjadi kunci utama.
"Di 15-20 menit terakhir kami mengontrol pertandingan dengan sangat baik," katanya.
Di sisi lain, pelatih Sporting CP, Rui Borges, merasa timnya layak mendapatkan hasil lebih dari sekadar tersingkir.
"Saya pikir kami pantas mendapatkan lebih, bahkan mungkin bermain di perpanjangan waktu," ujarnya.
Ia bahkan menilai timnya lebih berbahaya dalam menciptakan peluang.
"Peluang terbaik ada pada kami. Arsenal tidak menciptakan banyak peluang," tegasnya.
Meski gagal lolos, Borges tetap bangga dengan perjuangan anak asuhnya.
"Tidak ada yang perlu disesali, hanya rasa bangga," ucapnya.
Hasil ini menjadikan Arsenal sebagai salah satu semifinalis dengan performa paling tidak meyakinkan musim ini. Mereka lolos bukan karena dominasi, melainkan ketahanan dan sedikit keberuntungan.
Sementara itu, Sporting harus pulang dengan kepala tegak. Meski tersingkir, performa mereka menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing di level tertinggi Eropa.
Sumber: Reuters, The Guardian, BreakingNews, UEFA