Kitakini.news -
Anfield tidak sekadar menjadi panggung laga terakhir musim bagi
Liverpool FC saat menghadapi Brentford F.C. pada pekan penutup
Liga Inggris 2025–2026, Minggu (24/5/2026) malam WIB. Stadion legendaris di Merseyside berubah menjadi ruang penuh emosi, nostalgia, sekaligus ketegangan, ketika
Liverpool menutup musim dengan hasil imbang 1-1 yang cukup untuk memastikan tiket Liga Champions lewat posisi empat besar klasemen akhir.
Sejak beberapa jam sebelum kick-off, aura pertandingan terasa berbeda. Bukan semata karena pentingnya hasil akhir, melainkan karena laga itu menjadi perpisahan dua ikon era modern Liverpool: Mohamed Salah dan Andy Robertson. Tribun Anfield dipenuhi syal merah, spanduk penghormatan, hingga koreografi khusus yang ditujukan untuk dua pemain yang selama hampir satu dekade membantu mengantar klub menuju era kejayaan baru.
Momen pertama yang menyentuh muncul ketika nama Salah dan Robertson diumumkan sebelum pertandingan. Sorakan panjang menggema dari empat sisi stadion. Lagu khusus untuk Salah berkumandang lebih keras dari biasanya, sementara Robertson mendapat penghormatan hangat sebagai sosok pekerja keras yang menjadi simbol determinasi Liverpool selama bertahun-tahun. Keduanya bahkan mendapat guard of honour emosional di tengah atmosfer yang lebih menyerupai malam penghormatan daripada pertandingan biasa.
Namun, salah satu momen paling unik justru datang dari kubu lawan. Di tengah hiruk-pikuk perpisahan dua legenda, publik Anfield juga menyambut pulang mantan kapten mereka, Jordan Henderson. Kini berseragam Brentford, Henderson kembali menjejak rumput Anfield untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Liverpool pada 2023. Sambutan yang diterimanya terasa sangat personal: tepuk tangan berdiri, nyanyian penghormatan, dan rasa haru yang sulit disembunyikan.
Kehadiran Henderson memang sudah lebih dulu menjadi perhatian. Beberapa pekan sebelum laga, Salah secara terbuka meminta fans Liverpool memberikan "perpisahan yang layak" kepada mantan kapten mereka karena kepergiannya pada 2023 dinilai terlalu mendadak tanpa seremoni yang pantas. Permintaan itu akhirnya benar-benar diwujudkan di Anfield. Henderson disambut bukan sebagai lawan, melainkan bagian dari sejarah besar klub.
Di atas lapangan, emosi tidak membuat tensi pertandingan menurun. Liverpool tampil agresif sejak awal demi memastikan tiket Liga Champions tak lepas. Salah hampir menciptakan akhir sempurna ketika tendangan bebasnya menghantam tiang gawang. Meski gagal mencetak gol dalam laga terakhirnya, bintang asal Mesir itu tetap meninggalkan jejak penting dengan assist untuk gol Curtis Jones—assist ke-120-nya untuk Liverpool. Robertson juga bermain penuh determinasi, seperti ingin mengakhiri perjalanannya dengan satu kemenangan terakhir di rumah sendiri.
Brentford tak datang sekadar menjadi figuran dalam pesta perpisahan. Tim tamu mampu menyamakan skor melalui Kevin Schade setelah Liverpool sempat unggul. Ketegangan meningkat di menit-menit akhir karena hasil imbang membuat situasi klasemen masih menuntut kewaspadaan. Namun ketika peluit panjang berbunyi, lega bercampur haru menyelimuti stadion: Liverpool resmi mengamankan posisi empat besar dan kembali lolos ke Liga Champions musim depan.
Selepas pertandingan, Anfield berubah menjadi panggung kenangan. Salah dan Robertson berdiri di tengah lapangan menerima penghormatan terakhir dari puluhan ribu suporter. Di tribun, banyak mata berkaca-kaca. Salah pergi sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah klub, sementara Robertson meninggalkan warisan sebagai bek kiri paling konsisten di generasinya. Henderson, meski datang sebagai lawan, ikut menjadi bagian dari malam emosional itu, seolah lingkaran cerita yang sempat terputus akhirnya kembali lengkap di rumah lamanya.