Kitakini.news - Kekhawatiran mulai menyelimuti kamp tim nasional Brasil. Saat persiapan menuju Piala Dunia 2026 memasuki fase krusial, kabar buruk datang dari pemain yang selama bertahun-tahun menjadi wajah utama Selecao, Neymar kembali dibekap masalah kebugaran alias cedera.
Brasil mengonfirmasi sang penyerang mengalami cedera betis tingkat 2, kondisi yang membuatnya dipastikan absen dalam dua laga uji coba melawan Panama dan Mesir, dua pertandingan terakhir sebelum turnamen dimulai.
Akun Instagram sepakbola terkemuka, 433 menjadi salah satu yang mengabarkan berita kurang baik tersebut, Kamis (28/5/2026).
Situasi itu otomatis memunculkan pertanyaan besar di Brasil: apakah Neymar benar-benar siap memimpin tim ketika menghadapi
Maroko pada 13 Juni dalam laga pembuka Piala Dunia?
Untuk saat ini, jawabannya belum pasti.Neymar disebut berstatus diragukan tampil untuk pertandingan pembuka tersebut.
Kondisi itu menjadi pukulan bagi Brasil yang sedang membangun momentum di bawah pelatih Carlo Ancelotti.
Waktu menjadi musuh utama. Cedera betis bukan sekadar rasa tidak nyaman yang bisa hilang dalam beberapa hari. Cedera grade 2 biasanya menandakan adanya robekan parsial pada serat otot, kondisi yang menuntut pemulihan hati-hati agar tidak berkembang menjadi cedera lebih serius.
Bagi pemain yang karier beberapa tahun terakhirnya berkali-kali diganggu problem fisik, alarm bahaya langsung berbunyi.
Neymar memang baru kembali ke lingkaran tim nasional setelah melewati periode panjang yang penuh tanda tanya soal kebugaran dan konsistensi performa. Reuters melaporkan situasi kebugaran pemain berusia 34 tahun itu sudah menjadi sorotan sejak awal pemusatan latihan Brasil, termasuk ketika ia melewatkan sesi latihan untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan.
Absennya Neymar dari laga kontra Panama dan Mesir bukan hanya soal kehilangan satu pemain bintang. Brasil kehilangan kesempatan penting untuk menyempurnakan chemistry sebelum turnamen.
Dua pertandingan tersebut sejatinya menjadi panggung terakhir Ancelotti menguji kombinasi lini depan, ritme permainan, dan distribusi peran antarpemain.
Tanpa Neymar, sebagian rencana teknis bisa berubah. Tekanan pun mengarah kepada Ancelotti. Pelatih Italia itu sejak awal berusaha menegaskan satu pesan, nama besar saja tidak cukup untuk mendapat tempat di tim nasional Brasil. Pemilihan pemain, menurut pendekatan Ancelotti, harus bertumpu pada kondisi fisik dan performa aktual, bukan reputasi masa lalu.
Ironisnya, ujian terbesar atas prinsip tersebut kini datang dari Neymar sendiri. Di satu sisi, Brasil tahu betul apa arti Neymar dalam pertandingan besar. Ia tetap menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Brasil, simbol kreativitas, sekaligus pemain yang mampu mengubah arah laga lewat satu momen individual.
Namun di sisi lain, Piala Dunia tidak memberi ruang bagi perjudian medis. Memainkan pemain yang belum benar-benar pulih dapat berubah menjadi keputusan mahal. Ancaman itu terasa semakin nyata karena lawan pertama Brasil bukan tim sembarangan.
Maroko datang ke turnamen dengan reputasi sebagai salah satu kekuatan paling disiplin dan berbahaya. Tim Afrika Utara itu terkenal agresif dalam transisi, rapat dalam organisasi pertahanan, dan nyaman bermain melawan lawan yang lebih difavoritkan. Menghadapi lawan seperti itu tanpa Neymar dalam kondisi terbaik jelas bukan skenario ideal.
Brasil sendiri berada di Grup C bersama Maroko, Haiti, dan Skotlandia. Di atas kertas, Selecao tetap menjadi favorit. Namun turnamen besar berkali-kali membuktikan satu hal: awal yang goyah dapat mengubah seluruh jalur kompetisi.
Yang membuat situasi ini semakin sensitif adalah timing-nya. Cedera datang tepat ketika Brasil mulai memasuki periode final persiapan. Tidak ada lagi waktu panjang untuk eksperimen. Tidak ada lagi jeda kompetisi berbulan-bulan. Semua bergerak cepat menuju hari pembukaan.
Sumber: Reuters