Kitakini.news -
Islam Makhachev akhirnya buka suara mengenai duel panas antara Ilia
Topuria dan Justin
Gaethje yang akan menjadi salah satu laga utama di event spektakuler
UFC White House atau
UFC Freedom 250.
Komentar mantan raja lightweight UFC dan pemegang sabuk juara welter UFC itu langsung menyita perhatian publik MMA. Pasalnya, Makhachev secara terang-terangan memilih Ilia Topuria sebagai petarung yang lebih berpeluang menang, meski lawannya adalah Justin Gaethje, salah satu legenda paling brutal dalam sejarah divisi ringan.
Pertarungan yang akan digelar di halaman White House, Washington D.C., tersebut memang sudah menjadi bahan pembicaraan besar sejak diumumkan. Bukan cuma karena status kedua petarung, tetapi juga karena banyak fans sebelumnya berharap duel Ilia Topuria vs Islam Makhachev benar-benar terjadi.
Namun skenario itu bukan tak pernah terwujud, tetapi belum. Kini, Topuria justru harus berhadapan dengan Gaethje dalam laga yang diprediksi bakal berlangsung penuh kekacauan sejak ronde pertama.
Dalam wawancara yang dikutip UFC Eurasia dan diperkuat sejumlah laporan media MMA internasional, Makhachev mengakui duel tersebut sangat sulit diprediksi. Meski begitu, ia menilai faktor usia dan momentum membuat Topuria sedikit lebih diunggulkan.
"Event di White House ini… saya tidak menghitung Gaethje keluar dari persaingan. Dia warhorse (kuda perang), petarung yang sudah makan banyak pengalaman. Topuria lebih muda. Ini matchup yang sangat bagus untuk fans. Saya percaya pertarungan ini tidak akan berjalan sampai keputusan juri," kata Makhachev.
Namun bagian paling mengejutkan datang setelahnya. Juara dua divisi UFC itu akhirnya secara langsung mengungkap siapa petarung yang menurutnya bakal keluar sebagai pemenang.
"Aku lebih condong ke Topuria," ucap Makhachev.
Prediksi tersebut langsung memancing reaksi besar dari penggemar MMA. Sebab, memilih Gaethje untuk kalah bukan keputusan ringan.
Nama Justin Gaethje selama ini identik dengan perang brutal di oktagon. Gaya bertarung agresif, tekanan tanpa henti, hingga durability luar biasa membuat petarung Amerika Serikat itu tetap dianggap sebagai ancaman bagi siapa pun, termasuk generasi baru UFC.
Tak sedikit petarung elite tumbang setelah terseret ritme bertarung liar milik Gaethje. Karena itulah Makhachev menyebutnya sebagai "warhorse", petarung veteran yang ditempa banyak peperangan besar.
Meski usia Gaethje tak lagi muda untuk ukuran divisi lightweight, pengalaman menghadapi lawan elite membuatnya tetap berbahaya. Dalam beberapa pertarungan terakhir, ia masih mampu menunjukkan kemampuan bertahan dan menyerang di level tertinggi.
Namun di sisi lain, Ilia Topuria datang membawa momentum besar. Petarung berdarah Georgia-Spanyol itu sedang berada di fase terbaik kariernya. Rekor tak terkalahkan, kemampuan striking eksplosif, serta finishing instinct mematikan membuat banyak pihak melihatnya sebagai calon wajah baru divisi ringan UFC.
Topuria dikenal sangat cepat dalam membaca celah lawan. Timing pukulannya presisi, sementara tekanan yang ia bangun sering membuat lawan kehilangan ritme sejak awal pertarungan.
Perbedaan gaya bertarung itulah yang membuat duel ini diprediksi bakal meledak. Gaethje hampir tidak pernah bermain aman. Topuria hampir selalu mencari penyelesaian cepat. Tak heran jika Makhachev yakin pertarungan tersebut kemungkinan besar tidak akan sampai keputusan juri.
Sebagai informasi, UFC White House atau UFC Freedom 250 akan berlangsung di Washington D.C. pada Minggu, 14 Juni 2026 waktu setempat. Untuk penonton Indonesia, rangkaian main card dimulai Senin, 15 Juni 2026 pukul 07.00 WIB.
Event ini menjadi salah satu kartu paling bersejarah dalam kalender UFC karena digelar langsung di area White House dan menghadirkan sejumlah pertarungan elite lintas divisi.
Sumber: UFC Eurasia, MMA Fighting, SI MMA/FanNation