Kitakini.news - PSMS Medan terus menunjukkan keseriusannya menyongsong musim 2026/2027. Setelah memastikan tetap mempertahankan pelatih kepala Eko Purdjianto, manajemen kini resmi memperkenalkan susunan staf kepelatihan yang akan menjadi tulang punggung tim dalam upaya mengembalikan kejayaan Ayam Kinantan.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi PSMS Medan, Jumat (5/6 dan menandai dimulainya babak baru persiapan tim menuju kompetisi mendatang.
Sorotan utama tertuju pada kembalinya Sahari Gultom sebagai pelatih kiper PSMS Medan. Sosok yang akrab disapa Ucok itu menggantikan Hendro Kartiko dan membawa pengalaman panjang yang sulit ditandingi. Sahari bukan nama asing bagi sepak bola nasional. Ia pernah menjadi bagian dari tim kepelatihan kiper Timnas Indonesia senior maupun kelompok umur, serta memiliki rekam jejak bersama sejumlah klub seperti Karo United, PSIM Yogyakarta, Sulut United, PS TNI, hingga Sumsel United pada musim lalu.
Namun, nilai lebih terbesar dari penunjukan ini adalah kedekatan emosional Sahari dengan PSMS. Ia pernah mengabdi sebagai pelatih kiper PSMS pada musim 2016-2017 dan 2018-2019. Dengan kata lain, ini bukan sekadar perekrutan, melainkan kepulangan seorang putra daerah yang memahami karakter klub, tekanan suporter, serta budaya sepak bola Medan.
Di samping Sahari, manajemen juga mempertahankan Legimin Rahardjo sebagai asisten pelatih. Legimin merupakan figur yang identik dengan PSMS, baik saat masih aktif sebagai pemain maupun ketika beralih ke dunia kepelatihan. Kehadirannya menjadi jembatan penting antara staf pelatih dan kultur ruang ganti yang telah lama ia kenal.
Pada sektor kebugaran, PSMS menunjuk Asep Ardiansyah sebagai pelatih fisik menggantikan posisi yang sebelumnya ditempati Ruly Hidayansyah. Peran ini akan sangat krusial mengingat Eko Purdjianto menginginkan persiapan lebih matang sejak awal musim demi membangun tim yang mampu bersaing dalam perburuan tiket promosi.
Sementara itu, posisi analis tim tetap dipercayakan kepada Yayan Setiawan. Keputusan mempertahankan Yayan menunjukkan bahwa manajemen ingin menjaga kesinambungan analisis performa tim. Di era sepak bola modern, peran analis semakin vital dalam membaca kekuatan lawan, mengevaluasi permainan sendiri, hingga menyusun strategi berbasis data.
Komposisi ini memperlihatkan perpaduan menarik antara pengalaman nasional, kedekatan emosional dengan klub, dan kesinambungan program. Eko Purdjianto tidak hanya mendapatkan staf yang memahami sepak bola Indonesia, tetapi juga figur-figur yang mengenal denyut sepak bola Sumatera Utara. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa PSMS tidak ingin sekadar menjadi peserta kompetisi, melainkan benar-benar membangun fondasi kuat untuk kembali bersaing di papan atas.
Bagi suporter PSMS, nama Sahari Gultom mungkin menjadi kabar yang paling membangkitkan optimisme. Di tengah ambisi klub untuk bangkit, kembalinya sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Ayam Kinantan menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus harapan baru. Pengalaman membina penjaga gawang tim nasional menjadi modal berharga untuk meningkatkan kualitas sektor yang sering menjadi penentu hasil pertandingan.
Dengan Eko Purdjianto di kursi pelatih kepala, Legimin Rahardjo sebagai tangan kanan, Sahari Gultom di bawah mistar, Asep Ardiansyah mengawal kebugaran pemain, serta Yayan Setiawan di ruang analisis, PSMS Medan mulai menyusun kepingan puzzle menuju musim baru. Di atas kertas, struktur ini memberi gambaran bahwa Ayam Kinantan sedang membangun fondasi yang lebih kokoh untuk mewujudkan target besar: mengembalikan nama PSMS ke level tertinggi sepak bola Indonesia.