Kitakini.news - Adalah Ibu Jani, wanita berusia 28 tahun yang berjuangmembantu menafkahi kehidupan keluarga kecilnya bersama suami dengan berjualan KuePao di pinggir jalan, depan Masjid Al-Jihad, Jalan Abdullah Lubis, Medan. Tigatahun ia jalani profesi ini dengan penuh senyum syukur, meski panas dan hujan kadangmengguyur.
Warga kawasan Jalan Sei Batu Gingging Medan ini, mengakusudah berjualan Kue Pao sejak 2022 lalu. Berawal dari membantu orang lainmenjualkan dagangan Kue Paonya, hingga kini ia membuka usahanya sendiriberjualan menggunakan etalase berjalan di atas sepeda motornya, dengan berbekalkompor pemanas agar kuenya tetap hangat saat pelanggan membeli.
Pagi buta, Jani dibantu suaminya mempersiapkan adonan danmengukus Kue Pao dan dibentuk sedemikian rupa, dengan memasukkan berbagaivarian rasa agar dagangannya banyak pilihan sesuai keinginan pembeli. Mulaidari rasa coklat, kacang merah, kacang hijau, ayam, inti kelapa dan beberaparasa lainnya. Harganya pun terjangkau, Rp9 Ribu untuk satu kue Kue Pao. Ia punmulai berjualan pukul 08.00-18.00 WIB.
Meskipun menggunakan sepeda motor yang bisa kapan sajaberpindah tempat, namun Jani lebih sering menghabiskan waktu untuk berdagang dipinggir jalan di depan Masjid Al-Jihad, rumah ibadah muslim yang setiap hariramai didatangi jemaah untuk melaksanakan salat lima waktu. Terlebih lagi,banyak aktivitas pengajian dan ceramah di tempat itu.
"Dulunya saya menjualkan jualan Kue Pao punya orang. Sekarangsudah tiga tahun ini saya buka jualan Kue Pao sendiri, bermodal belajar danberusaha untuk bisa mandiri membantu nafkah keluarga," kata Jani sembarimemperhatikan orang yang mungkin ingin membeli dagangannya.
Untuk usia Jani, ia termasuk masih tergolong muda, di bawah30 tahun. Namun hal itu tidak membuatnya malu atau gengsi untuk berjualan dipinggir jalan. Bahkan sekalipun penghasilannya setiap hari tidak tetap, namunapa yang ia dapat selalu menjadi alasan untuk bersyukur kepada Sang Pencipta,Sang Pemberi Rezeki, dan itu ia yakini sepenuhnya.
"Ya sehari bisa dapat Rp70 Ribu, dan bisa lebih kalau lagiramai yang beli," katanya dengan mata berkaca.
Dari perbincangan dengan Jani, tampak para pembeli sepertimenyukai kue Kue Pao aneka rasa miliknya. Silih berganti orang datang danmemesan kepadanya, sambil ia siapkan wadah untuk memanaskan dagangannya agarrasanya lebih nikmat. "Kadang pengen juga kalau ada rejeki lebih, buka lapakjualan, warung kecil. Jadi nanti orang yang beli bisa sambil duduk dan minumteh," katanya sambil berharap.
Pun begitu, Jani menyadari keterbatasan finansial keluargayang mengharuskan ia dan suami berjuang lebih keras dan mungkin lebih lama agarharapan dan cita-citanya bisa ia capai. Tak lain dan bukan, adalah untukmeningkatkan taraf hidupnya. Karena itu, Jani selalu bersyukur dengan penghasilanyang ia peroleh dari berjualan Kue Pao setiap hari, tanpa merasa malu walauharus berjibaku di pinggir jalan seperti juga para dengan pedagang yang lain.
"Ya memang butuh proses dek, tetapi yang penting kan kitajangan sampai berhenti berusaha," pesannya kepada penulis.
Dari perbincangan itu, tercermin sikap pantang menyerah yangada pada Jani. Seorang wanita sekaligus istri yang tangguh, dalam membantumemenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan jika itu harus bersaing dengan pedagangyang lain yang mungkin menyajikan makanan serupa, ia tak merasa itu sebuahhalangan atau kemunduran untuk bisa mendapatkan rejeki yang baik dan halal. Karenanyakonsistensi menjadi satu kunci kekuatan baginya dalam menjemput harapan yang iatanam dalam sanubari.
"Kalaupun belum bisa membuka warung, saya juga ada rencanamau menambah (unit) dagangan Kue Kue Pao, mengembangkan usaha ini," ucap Janimengungkapkan rencana bisnisnya ke depan.
Selain harapan, Jani juga menunjukkan sikap sebagai seorangpedagang yang ramah kepada pembeli. Bahkan tak jarang ia sering diajakberbincang oleh pelanggannya, yang ia respon dengan baik tanpa melihatpenampilan. Dengan begitu, baginya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri karenaorang lain senang berinteraksi dengan Jani.
"Kadang ada yang ngajak ngobrol lama. Ya saya senang aja,apalagi ada yang mau dengar cerita saya. Ada juga yang nggak beli, tetapimemberi semangat. Bahkan ada yang mau ngasi minum, pas lagi panas terik,"tambah Jani lagi.
Dari kisahnya, Jani tak hanya menjual Kue Pao, tetapi jugamenebar semangat dan senyum tulus, ikhlas kepada siapapun yang datang ketempatnya berjualan. Kerja keras dan rasa syukur itu pula yang membuatnya mendapatpelanggan tetap yang selalu membeli kue Kue Pao buatannya. Apalagi dari segitampilan dan rasa, mungkin tak kalah saing dengan yang lain.
Sebuah motivasi dan harapan besar bagi siapapun yangmengetahui kisah perjuangan Jani, perempuan penjual ke Kue Pao di pinggirjalan, Kota Medan. Tak hanya mengajarkan bagaimana bertahan hidup, tetapi jugamenjalaninya dengan hati yang lapang. Sehingga penghasilannya bukan hanyasekadar soal berapa rupiah yang ia dapat dari berdagang, melainkan keberkahandan manfaat yang bisa dirasakan orang lain, baik pembeli maupun keluarga dirumah, terlebih orang tuanya.
Banyak pelanggannya yang kini menjadi langganan tetap karenamerasa nyaman dengan keramahan dan kualitas rasa yang tidak pernah berubah. PerjuanganJani juga tidak lepas dari dukungan keluarga. Ia bercerita bahwa suaminyamembantu menyiapkan bahan-bahan dari rumah. "Pagi-pagi dia bantu kukus Kue Pao,saya yang jualan," katanya.
Sore itu, langit mendung menggantung di atas Kota Medan.Jani dengan sabar melayani pelanggan terakhirnya sebelum menutup lapaknya.Tangannya yang cekatan membungkus Kue Pao, wajahnya tetap ramah walau tubuhterlihat letih. "Alhamdulillah, habis juga hari ini," ucapnya lirih sambilmenyapu peluh di keningnya.
Di balik wajah sederhana dan etalase kecilnya, Janimenyimpan harapan besar. Harapan akan masa depan yang lebih baik untuk orangtuanya, harapan agar usahanya berkembang, dan harapan agar selalu diberikekuatan. Ia adalah potret nyata dari semangat perempuan yang tidak hanyatangguh, tetapi juga penuh cinta dalam setiap langkahnya. Setiap rupiah yang iakumpulkan menjadi simbol dari perjuangan yang jujur dan bersih. Dalamkesederhanaannya, Jani juga menunjukkan nilai-nilai luhur yang mulai jarangditemukan: kejujuran, kerja keras, dan rasa syukur.
Tulisan ini kiriman dari Hasanatul Mardliyah Br Tambunan, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, untuk tugas Teknik Menulis Feature dan Opini. Sudah disesuaikan dengan kebutuhan pemberitaan di Kitakini.news. (*)