Dari Lembaran Uang Lama hingga Perangko Bung Karno, Sofyan Tan: Menemukan Kembali Jejak Sang Perekat Bangsa

CT2 - Senin, 17 Agustus 2026 21:50 WIB
Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr Sofyan Tan, memperhatikan lembaran uang kertas lama yang dipamerkan di loby Perpustakaan Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, pada 17-19 Agustus 2

Kitakininews.co.id -MEDAN : Lembaran uang lama dan perangko bergambar Bung Karno mungkin kini terlihat sebagai benda masa lalu yang kehilangan fungsi di tengah kehidupan modern. Namun, di balik kertas yang menua tersebut tersimpan cerita panjang tentang perjalanan Indonesia, mulai dari mempertahankan kemerdekaan, pergolakan politik, hingga perjuangan membangun persatuan bangsa.

Jejak sejarah itu kembali dihadirkan dalam Pameran Sosok Bung Karno sebagai Perekat Bangsa dalam Filateli dan Numismatik Indonesia yang digelar di Perpustakaan Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, pada 17-19 Agustus 2026.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr Sofyan Tan, mengatakan pameran tersebut bukan sekadar menampilkan koleksi uang dan perangko dari masa lalu, tetapi menjadi sarana untuk mengajak generasi muda mengenal kembali perjalanan sejarah bangsa.

"Pameran ini bukan sekadar menghadirkan benda-benda koleksi dari masa lalu. Lebih dari itu, pameran menjadi sebuah cara untuk mengajak generasi hari ini berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan bangsa, dan bertanya: dari mana Indonesia yang kita kenal hari ini berasal?" kata Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu, Senin (17 Agustus 2026).

Menurut Sofyan Tan, sejarah tidak seharusnya hanya tersimpan dalam buku pelajaran. Sejarah harus terus dihidupkan dan didekatkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia menilai koleksi yang dipamerkan Universitas Satya Terra Bhinneka memiliki nilai penting karena uang dan perangko tersebut bukan sekadar benda lama, melainkan artefak yang merekam berbagai fase perjalanan Republik Indonesia.

"Dari lembaran uang lama hingga perangko Bung Karno, saya berharap kita dapat menemukan kembali jejak sang perekat bangsa," ujar Sofyan Tan.

Bagi Sofyan Tan, setiap lembar uang dan perangko yang dipamerkan memiliki cerita tentang masa ketika Indonesia mempertahankan kemerdekaan, menghadapi pergolakan, hingga menghadapi berbagai tantangan terhadap keutuhan negara.

Dalam perjalanan tersebut, sosok Bung Karno memiliki posisi penting karena gagasan kebangsaan yang dibawanya menjadi salah satu energi pemersatu masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang suku, agama, bahasa dan budaya yang beragam.

"Indonesia bukanlah bangsa yang lahir dari satu suku, satu agama, satu bahasa daerah, atau satu kebudayaan. Indonesia lahir dari keberagaman," kata Sofyan Tan.

Menurut dia, gagasan persatuan yang diwariskan Bung Karno masih relevan untuk dibicarakan hingga saat ini. Tantangan terhadap persatuan bangsa, kata dia, tidak selalu hadir dalam bentuk perang atau konflik bersenjata.

Perbedaan identitas, polarisasi sosial, informasi yang tidak benar, hingga melemahnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah juga dapat menjadi tantangan bagi keutuhan bangsa. Karena itu, merawat ingatan sejarah dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga Indonesia.

"Jangan sampai generasi muda mengenal Bung Karno hanya dari nama jalan, nama gedung, atau gambar di buku pelajaran. Mereka harus tahu mengapa Bung Karno penting dalam sejarah Indonesia dan apa yang bisa kita pelajari dari perjuangannya," ungkapnya.

Pameran tersebut menghadirkan sejarah melalui benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Lembaran uang yang dahulu digunakan untuk bertransaksi kini menjadi saksi perjalanan republik, sementara perangko yang pernah menjadi bagian dari komunikasi masyarakat berubah menjadi dokumen visual yang merekam wajah dan simbol sebuah zaman.

Koleksi dalam pameran merupakan milik sejarawan sekaligus Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof. Phil. Ichwan Azhari.

Sejumlah koleksi yang ditampilkan antara lain Bung Karno dalam URIPS/ORIDA periode 1947-1949, uang era Republik Indonesia Serikat (RIS), uang Republik Indonesia periode 1945-1949 dan 1950-1966, serta uang pada era PRRI-Permesta.

Pengunjung juga dapat melihat koleksi perangko bergambar Bung Karno, mulai dari era blokade/Wina tahun 1949, era Revolusi 1945-1949, hingga periode pascakemerdekaan 1950-1966.

Sofyan Tan mengapresiasi Prof. Ichwan Azhari yang bersedia membuka koleksi pribadinya kepada masyarakat. Menurutnya, koleksi sejarah akan memiliki nilai yang lebih besar apabila tidak hanya disimpan secara pribadi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran publik.

"Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Prof. Ichwan Azhari. Koleksi seperti ini sangat berharga, bukan karena usia bendanya, tetapi karena cerita yang dibawanya. Ketika koleksi itu dibuka untuk publik, maka sejarah menjadi milik bersama," pungkasnya.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Politik

Pratu Rizki Kurniawan Gugur dalam Baku Tembak OPM di Hari Kemerdekaan

Politik

Kepala Bapenda Medan Kenakan Pakaian Adat Simalungun Hadiri Upacara HUT ke-81 RI

Politik

Aksi Penuh Semangat Rico Waas Ikut Tarik Tambang, Bawa Timnya Raih Kemenangan di Pesta Rakyat Medan Amplas

Politik

HUT ke-81 RI, Sugiat Santoso Ajak Kader Gerindra Sumut Siapkan Diri Menuju Indonesia Emas 2045

Politik

PDIP Sumut Rayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Rapidin Simbolon Tekankan Kerja Kerakyatan

Politik

APBD Medan 2027 Fokus Kesejahteraan, Rico Waas Minta OPD Setop Anggaran Pemborosan