Belajar Sejarah Medan Zaman Dulu di Museum Situs Kotta Cinna

Fitri - Senin, 09 September 2024 14:00 WIB
Instagram @museumsituskottacinna
Museum situs Kotta Cinna berada di Jalan Kota China, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan.

Kitakini.news - Sejak zaman dahulu Medan sudah jadi pelabuhan internasional. Bukan sembarangan klaim, buktinya terpajang di Museum Situs Kotta Cinna.

Artinya sebelum Medan menghasilkan tembakau Deli, kapal-kapal luar negeri telah merapat untuk berdagang rempah di pelabuhan yang berada di sekitar kawasan Museum Situs Kotta Cinna kini.

Melansir berbagai sumber, Minggu (8/9/024), secara administrasi, museum ini berada di Jalan Kota China, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. Situs ini secara topografis terletak di Lembah Deli, termasuk wilayah pantai timur Sumatera.

Kotta Cinna adalah pelabuhan internasional dari abad 11 hingga abad 15 masehi. Berbagai kapal dari Persia, India, dan bahkan Tiongkok pernah berlabuh di Kotta Cinna.

Kotta Cinna telah dimukimi oleh orang-orang Tamil pada masa itu. Di Kotta Cinna ini diduga terdapat jaringan dagang, yaitu perserikatan besar pedagang Tamil, yang bernama Ayyavole ainnuarruvar dan Mannikiram.

Kemajuan perdagangan di bandar Kotta Cinna mendadak terhenti, setelah kota itu dilanda musibah alam. Kawasan pelabuhan laut yang berkembang pesat ini terkubur menjadi daratan.

Nah, berikut sejarah Museum Situs Kotta Cinna di Medan Marelan:

1. Kota Terpadat di AsiaSitus Kotta Cinna dipercayai pernah menjadi salah satu kota kosmopolitan terpadat di Asia pada abad ke-11. Di area seluas 25 hektare yang kini menjadi permukiman ditemukan banyak dan padat sekali tinggalan arkeologis. Tidak ada situs purbakala dengan temuan sepadat itu.

2. Kosmopolitan di Pantai Timur SumatraTemuan situs ini sekaligus menjawab keberadaan kota kosmopolitan di pantai timur Sumatra yang menjadi pelabuhan asal komoditas penting yang diekspor ke Eropa. Komoditas-komoditas ini juga diekspor dari Pelabuhan Barus di pantai barat Sumatra di Tapanuli Tengah.

3. Berkaitan dengan Kerajaan Penting Eksplorasi Situs Kotta Cinna seperti membuka satu teka-teki sejarah di Sumatra. Situs ini dianggap berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Aru di Situs Putri Hijau di Deliserdang, Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, hingga Kerajaan Lamuri di Aceh yang berkembang pada abad ke-13 hingga ke-15.

4. Ditempati Pedagang Tamil Area Situs Kotta Cinna diduga ditempati para pedagang Tamil dari India Selatan. Hal itu diperkuat oleh temuan sejumlah arca bergaya Tamil. Uang koin dan keramik China diduga dibawa oleh pedagang Tamil sebagai alat tukar ketika itu.

5. Reruntuhan CandiPenemuan enam struktur bata yang diduga merupakan reruntuhan candi kuno. Dari enam struktur bata yang ditemukan, baru satu yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Struktur candi pertama dan kedua ditemukan pada 1974, candi ketiga pada 2009, candi keempat pada 2013, serta candi kelima dan keenam pada 2016.

6. Empat Arca Buddha dan HinduEmpat arca Buddha dan Hindu yang ditemukan membuktikan bahwa kawasan itu bukan hanya tempat persinggahan sementara para pedagang, melainkan juga merupakan permukiman tetap dengan sarana peribadatan permanen.

7. Empat ZonasiSitus Kotta Cinna dibagi menjadi empat zonasi. Zona terluar yang berada di pinggir pantai adalah kawasan pelabuhan dan perdagangan, diikuti kawasan candi, lokasi industri emas dan logam, serta terakhir adalah asrama biksu. Pelabuhan kuno itu diperkirakan berada di dekat bangunan Museum Situs Kotta Cinna saat ini.

8. Pendiri MuseumPendiri Museum Situs Kotta Cinna adalah sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari. Tepatnya pada 2008, sejak saat itu, Museum Situs Kotta Cinna dibuka untuk umum. Terdapat ribuan barang peninggalan sejarah di Museum Situs Kotta Cinna ini.

9. Ada Cheng HoAda gambar Cheng Ho di Museum Situs Kotta Cinna. Ini tak lain karena Laksamana Muslim Dinasti Ming itu empat kali mengunjungi kawasan ini dalam periode 1405-1422. Cheng Ho atau Zheng He dikenal sebagai salah satu navigator dan panglima militer Tiongkok terkenal yang memimpin ekspedisi samudera.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Wisata dan Kuliner

Dari Lembaran Uang Lama hingga Perangko Bung Karno, Sofyan Tan: Menemukan Kembali Jejak Sang Perekat Bangsa

Wisata dan Kuliner

DPD PDI Perjuangan Sumut Gelar Peringatan Kudatuli, Rapidin Soroti Demokrasi dan Nasib Rakyat

Wisata dan Kuliner

Ubah Image Kuno, Festival Sastra Museum 2026 Siap Jadi Ruang Kreatif Generasi Z di Sumut

Wisata dan Kuliner

Langkat Ulang Sejarah? Dari Terbit Rencana ke Syah Afandin, dan?

Wisata dan Kuliner

Maling Berhasil Bobol Museum Louvre selama Tujuh Menit

Wisata dan Kuliner

Dari Dendeng hingga Papeda, Ini Makanan Tua yang Tercatat Sejarah